Institusion
Universitas Komputer Indonesia
Author
Pamungkas, Martin Tri Bintang
Subject
710_Civic & Landscape Art.
Datestamp
2021-06-02 06:56:51
Abstract :
Walkability merupakan istilah yang digunakan untuk menjelaskan dan mengukur konektifitas serta kualitas jalur pejalan kaki. Lingkungan walkable adalah lingkungan yang memfasilitasi keinginan orang untuk berjalan. Hal ini membutuhkan dua syarat yang harus dipenuhi, orang-orang yang memiliki motivasi untuk berjalan dan lingkungan yang menyediakan fasilitas untuk berjalan. Lingkungan walkable juga tentunya dapat diperuntukan bagi beberapa kalangan masyarakat salah satunya yaitu tunanetra. Ringkasnya setiap penyandang difabel mempunyai kesamaan kesempatan dalam segala aspek kehidupan dan penghidupan, salah satunya dalam aspek aksesibilitas sehingga mereka tidak kesulitan dalam melakukan mobilitas. Kecamatan Cicendo memiliki mobilitas tinggi terhadap penyandang tunanetra dengan didukung adanya BRSPDSN Wyata Guna sebagai panti sosial bagi penyandang tunanetra yang terletak di Kelurahan Pajajaran. Namun kenyataan yang ada dilapangan pembangunan fisik untuk jalur pedesterian bagi penyandang tunanetra masih kurang memadai, hal ini terbukti dengan didapati para penyandang tunanetra yang berjalan masih dituntun oleh orang yang bisa melihat menuju kesuatu tempat. Maka guna mendukung hal tersebut maka diperlukan identifikasi tingkat walkability yang terdapat di sekitar BRSPDSN Wyata Guna berdasarkan persepsi penyandang tunanetra. Metode penelitian yang digunakan berupa Global Walkability Indeks (GWI) dimana merupakan analisis kualitatif penilaian tentang kondisi berjalan termasuk keselamatan, keamanan, dan kenyamanan lingkungan pejalan kaki. Berdasarkan persepsi penyandang tunanetra penilaian kondisi tingkat walkable yang terdapat di sekitar BRSPDSN Wyata Guna secara fisik ada beberapa kondisi yang bernilai buruk seperti ketersediaan jalur pejalan kaki dan ketersediaan guiding blok yang merupakan salah satu penunjang utama dalam mobilitas penyandang tunantera dalam berkegiatan. Selain itu juga terdapat hambatan atau halangan mulai dari penempatan serta kondisi di sekitar BRSPDSN Wyata Guna yang menyebabkan permasalahan yang dihadapi bagi penyangdang tunantera. Sedangkan secara lingkungan sekitar BRSPDSN Wyata Guna permasalahan yang dihadapi berupa keamanan menyebrang disekitar BRSPDSN Wyata Guna karena dinilai buruk secara keamanan, selain itu juga perilaku pengendara transportasi di sekitar BRSPDSN Wyata Guna yang dinilai kurang baik dalam berkendara saat melewati atau berada di sekitar kawasan tersebut. Namun sisi baiknya secara fisik kelengkapan fasilitas pendukung yang terdapat di sekitar BRSPDSN Wyata Guna seperti tempat duduk yang berada di sekitar trotoar. Serta secara lingkungan, lingkungan walkable yang terdapat di sekitar BRSPDSN Wyata Guna penyandang tunanetra sudah merasa aman dari kriminalitas.