Abstract :
Penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan Pola Komunikasi Upacara Kematian Saur Matua yang diterapkan di Kota Bandung. Untuk menjabarkan Fokus Penelitian, maka peneliti membagi sub-sub masalah mikro yaitu Proses Komunikasi, Hambatan Komunikasi dalam Prosesi Saur Matua Sebagai Upaya Menjaga Kelestarian Budaya Pada Upacara Kematian Adat Batak Toba di Kota Bandung. Metode Penelitian ini adalah kualitatif dengan studi deskriftif. Informan penelitian ditentukan dengan Teknik Purposive Sampling dan ditentukan berjumlah lima orang meliputi tiga raja parhata, dan dua masyarakat suku Batak Toba di Kota Bandung. Teknik pengumpulan data penelitian dengan studi pustaka, wawancara mendalam, observasi nonpartisipan, dan dokumentasi. Hasil penelitian menggunakan teknik analisis data dengan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa proses komunikasi pada acara saur matua dilakukan secara primer dan sekunder. Komunikasi primer dilakukan melalui bahasa Batak Toba dan bahasa Indonesia, lisan maupun tulisan. Kedua melalui kial atau gesture dalam manortor atau tari tortor. Ketiga melalui warna dalam ulos yang disematkan. Keempat melalui gambar sebagai lambang dalam kerbau dan kelimat melalui anak yang menjadi suatu hal yang penting untuk memperlancar suatu acara tersebut. Kemudian komunikasi sekunder pun dilakukan dengan menggunakan telepon, dan media sosial terutama whatsapp. Hambatan komunikasi umumnya terdapat gangguan yang berasal dari perbedaan bahasa, perbedaan persepsi dan cara pandang budaya dengan pihak keluarga dan latar belakang ekonomi maupun lingkungan. Kesimpulan penelitian, bahwa pola komunikasi upacara kematian saur matua yang terjadi antara pihak keluarga dan pihak adat melalui pola komunikasi multiarah. Saran dalam penelitian ini, diharapkan agar selalu konsisten dalam menjalankan atau melaksanakan tradisi saur matua sesuai dengan aturan yang sudah turun menurun agar pelestarian budaya ini tidak hilang oleh perkembangan zaman.