Abstract :
I
Dalam mengelola infrastruktur Teknologi Informasi (TI) dan menyediakan
berbagai layanan terkait TI guna mendukung operasional organisasi atau
perusahaan membutuhkan infrastruktur yang dapat menunjang. Selain
infrastruktur jaringan komputer dibutuhkan juga infrastruktur pada database
server. Kegagalan suatu sistem pada sebuah server bisa terjadi kapan saja, jika
database server mati maka pengguna tidak bisa mengakses aplikasi dan resiko
kehilangan data yang tersimpan pada server tersebut. Untuk mengatasi masalah
tersebut diperlukan implementasi clustering database.
Clustering adalah kumpulan dari beberapa server yang berdiri sendiri yang
kemudian bekerja sama sebagai suatu sistem tunggal. Metode clustering sangat
baik untuk menjamin ketersediaan layanan yang tinggi (High-Availability) dan
penanganan kegagalan sistem. Jika ada salah satu server yang mengalami
kegagalan maka sistem tidak akan terganggu karena server lain akan tetap
berfungsi dan menggantikan kerja server utama. Kemampuan clustering
memungkinkan sebuah database tetap aktif dalam waktu yang panjang.
Membangun clustering database merupakan hal yang cukup rumit dan
memakan waktu, hal itu dapat diatasi menggunakan patroni dan ansible. Patroni
adalah aplikasi yang menyediakan kemampuan untuk mengkonfigurasi, deploy,
dan menjalankan arsitektur HA PostgreSQL, patroni menyediakan status cluster
dan konfigurasi arsitektur yang disimpan pada distributed configuration store
(DCS). Ansible menyediakan kemampuan otomatisasi konfigurasi sebuah sistem
sehingga dapat mempersingkat waktu membangun clustering database.
Kata Kunci: Ansible, Clustering Database, High Availability, Patroni,
PostgreSQL.