Abstract :
Daerah resapan air sangat penting keberadaannya, karena berfungsi untuk
menjaga keseimbangan dan kelestarian tata air khususnya dalam pelestarian air
tanah dan mencegah terjadinya bencana banjir dan kekeringan. Namun dewasa
ini, pembangunan telah mengalami kemajuan yang pesat dan menimbulkan
kerusakan vegetasi serta berubahnya vegetasi menjadi area terbangun yang
berdampak pada permasalahan berkurangnya daerah resapan air di wilayah
Kabupaten Malang.
Penelitian ini memanfaatkan aplikasi Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi
Geografis untuk menganalisis kondisi daerah resapan air di Kabupaten Malang.
Data yang digunakan yaitu citra landsat 8 untuk memperoleh data kerapatan
vegetasi serta peta digital meliputi data jenis batuan, curah hujan, jenis tanah,
kemiringan lereng dan penggunaan lahan. Penelitian ini menggunakan metode
interpretasi digital yaitu Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) untuk
menentukan tingkat kerapatan vegetasi yang disertai dengan raster to vector,
kemudian menggunakan metode scoring dan overlay peta-peta tematik untuk
menentukan kondisi resapan air.
Hasil penelitian menunjukkan confusion matrix citra landsat di daerah penelitian
sebesar 88,64%. Hasil kondisi daerah resapan air di Kabupaten Malang meliputi 6
(enam) kelas yaitu baik, normal alami, mulai kritis, agak kritis, kritis dan sangat
kritis. Secara keseluruhan dari luas Kabupaten Malang, sebesar 27,70% memiliki
kondisi resapan air baik dan sebesar 2,99% memiliki kondisi resapan air sangat
kritis. Secara administratif, kondisi resapan air baik sebagian besar tersebar di
Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Tirtoyudo, Ampelgading, Poncokusumo,
Donomulyo, Pujon, Jabung dan Ngantang. Adapun kondisi resapan air sangat
kritis sebagian kecil tersebar di Kecamatan Poncokusumo, Wajak, Bululawang,
Gondanglegi, Turen, Pagelaran, Kepanjen, Tajinan, Pakisaji, Tumpang, Jabung,
Pakis, Kasembon dan Ngantang.