Abstract :
Pelestarian cagar budaya harus didukung oleh kegiatan pendokumentasian
sebelum dilakukan kegiatan yang menyebabkan terjadinya perubahan keasliannya.
Pendokumentasian tersebut tidak hanya sebatas untuk mengetahui dimensi
geometri cagar budaya, tetapi juga terkait dengan seberapa besar perubahan
dimensi geometri cagar budaya, tetapi juga terkait dengan seberapa besar
perubahan dimensi geometri yang terjadi dalam rentang waktu tertentu.
Seiring perkembangan teknologi komputer dan digital, salah satu kegiatan
pendokumentasian cagar budaya dapat dilakukan dengan menggunakan
fotogrametri jarak dekat. Prinsip pengukuran metode ini dilakukan dengan
pengukuran antar titik (tie point) pada posisi yang sama dari sepasang foto stereo
yang terorientasi sehingga menghasilkan model tiga dimensi (3D). Pada kasus
berikut adalah bagaimana metode fotogrametri jarak dekat (close range
photogrammetry) dapat menjadi alternatif dalam pendokumentasian bangunan
yang selanjutnya digunakan sebagai acuan rekonstruksi dan konservasi, untuk bisa
diolah lebih lanjut sesuai kebutuhan dan bagaimana kualitas data yang dihasilkan.
Selisih hasil ukuran paling besar pada analisa perbandingan dimensi candi
purwata lor sebesar 0.2419 m pada sisi sebelah barat no. 2 dan selisih hasil ukuran
paling kecil pada analisa perbandingan dimensi candi utama sebesar 0.0005 m
pada sisi bagian barat no. 7. Fotogrametri jarak dekat dapat menjadi alternatif
pendokumentasian bangunan candi, tetapi dalam pembuatan model 3D harus
menggunakan lebih dari satu aplikasi agar hasil model 3D yang didapatkan
mendekati bentuk aslinya.