Abstract :
Adanya aktivitas manusia seperti aktivitas industri, permukiman dan
pertanian menyebabkan peningkatan jumlah bahan organik di sungai. Peningkatan
jumlah bahan organik dapat mengakibatkan perubahan parameter fisika-kimia
perairan seperti peningkatan kandungan Amonia pada perairan yang dapat
menurunkan kadar oksigen terlarut karena adanya konsumsi oksigen untuk proses
nitrifikasi Amonia. Sehingga apabila konsumsi oksigen terlarut di perairan terus
berlangsung tanpa adanya suplai oksigen terlarut maka akan terjadi defisit oksigen
atau bahkan anoksik. Kondisi tersebut akan menimbulkan pencemaran air di
sungai sehingga terjadi deoksigenasi pada sungai dan penurunan kualitas air
sungai. Oleh karena itu perlu adanya upaya pengendalian pencemaran air. Salah
satunya dengan cara pemodelan yang menggunakan data untuk membuat desain
teknologi pengendalian pencemaran air. Data yang digunakan berupa nilai
penentuan tingkat deoksigenasi Amonia di Sungai Brantas menggunakan metode
Thomas.
Lokasi pengambilan sampel ada 7 titik yaitu Arboretrum Sumber Brantas,
Jembatan Pendem, Jembatan Bumiayu, Jembatan Kesamben, Jembatan
Kertosono, Jembatan Ploso dan Jembatan Padangan. Teknik pengambilan sampel
air menggunakan sampel sesaat (grab sample). Analisis sampel menggunakan
parameter Amonia dengan interval waktu pengamatan setiap 5 hari dimulai pada
hari ke 1, 2, 3, 4, 5, 10, 15, 20, 25 dan 30. Analisis Amonia menggunakan standar
metode SNI 06-2479-1991 tentang Pengujian Kadar Amonium Dalam Air dengan
Alat Spektrofotometer Secara Nessler.
Berdasarkan penelitian didapatkan hasil untuk nilai deoksigenasi Amonia
(KN-NH3) dari hulu ke hilir dengan nilai antara 0-0,120/hari. Sedangkan nilai BOD
ultimate (LN-NH3) berkisar antara 0-37,80 mg/l. Dalam penelitian ini nilai KN-NH3 di
Sungai Brantas lebih kecil dibandingkan dengan sungai lainnya, seperti Sungai
Metro yaitu 0,145-0,193/hari dan Sungai Ravi (2010) yaitu 0,09-0,26/hari.
Sedangkan menurut Thoman dan Mueller (1987) nilai KN-NH3 di perairan
seharusnya adalah sebesar 0,1-0,5/hari. Dalam penelitian ini nilai KN-NH3 dan LNNH3
berbanding
terbalik,
dimana
nilai
KN-NH3
lebih
kecil
dibanding
nilai
LN-NH3.
Hal
ini
karena proses dekomposisi bahan organik Amonia terjadi secara lambat,
sehingga BOD akhir didapatkan besar.