Abstract :
Penurunan muka tanah disebabkan oleh perubahan volume lapisan muka tanah
yang terkandung di bawahnya. Diambilnya air tanah pada lapisan tanah yang
mampu menampung air akan menghasilkan ruang kosong, hal ini yang menjadikan
volume lapisan tanah berubah. Kebutuhan air masyarakat Pekalongan setiap
harinya diambil dari sumur air tanah sesuai kebijakan pemerintah Kota Pekalongan
berupa PAMSIMAS (Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat).
Pengambilan air tanah yang terus menerus secara berlebih akan membuat muka
tanah mengalami penurunan. Fenomena penurunan muka tanah dapat dilakukan
pemantauan secara periodik menggunakan Penginderaan Jauh berupa analisis citra
satelit radar.
Penggunaan Penginderaan Jauh dalam melakukan pemantauan penurunan muka
tanah untuk mengetahui besar penurunan muka tanah setiap tahunnya. Metode
Penginderaan Jauh yang digunakan adalah metode DInSAR (Differential
Interferometric Synthetic Aperture Radar) menggunakan data citra satelit radar
Sentinel-1 bertipe SLC (Single Look Complex) dengan mode pengamatan IW
(Interferometric Wide-Swath). DInSAR memanfaatkan perbedaan fase dari dua
citra satelit radar, citra master dan citra slave, dengan akuisisi berbeda guna
mendapatkan besar deformasi. Perbedaan fase atau yang disebut interferogram
dibentuk melalui tahapan pengaturan data, koregistrasi, interferometri, flattening,
pemfilteran, multilooking, phase unwrapping, phase displacement, geocoding,
hingga dihasilkan besar deformasi dalam satuan meter.
Dengan menggunakan aplikasi bebas akses SNAP, metode DInSAR digunakan
dalam analisis citra satelit radar Sentinel-1 untuk pemantauan pada permukiman
Kota Pekalongan menghasilkan bahwa Kota Pekalongan mengalami penurunan
muka tanah dari tahun 2017 hingga tahun 2019. Pada tahun 2017 hingga tahun
2018, Kota Pekalongan mengalami penurunan muka tanah sebesar 0,25 meter
dengan simpangan baku 0,016 meter sedangkan pada tahun 2018 hingga tahun 2019
sebesar 0,28 meter dengan simpangan baku 0,022 meter.