Abstract :
Di Kota Malang terdapat banyak seniman yang menghasilkan karya-karya seni yang
kemudian mereka terbagi secara individual dalam pengelolaannya, selain itu kurangnya
perhatian dalam ruang lingkup seni lukis seperti halnya wadah yang mempersatukan karya
pun menjadi masalah baru sehingga penyaluran hasil karya, penjualan hasil karya pun masih
kurang efektif. Perencanaan dan perancangan suatu wadah atau Arsitektur yang dapat
menampung semua hasil karya seni lukis dari segala aliran seni lukis maupun kalangan
seniman junior dan senior.
Metode yang diterapkan adalah teknik pengumpulan data sekunder dan primer yang didapat
melalui studi kasus atau studi banding dari beberapa lokasi pameran karya seni di kota
malang. Ketersediaan wadah atau fasilitas yang dapat mempersatukan hasil-hasil dari karya
seni lukis oleh para seniman merupakan sisi penting yang perlu diperhatikan karena
memiliki pengaruh penting terhadap nilai budaya. Dekonstruksi merupakan buah dari suatu
perkembangan karya arsitektur atau aliran arsitektur yang muncul pada saat itu karena efek
dari kebosanan dengan teori-teori dan aturan yang membatasi ruang gerak karya arsitek
yang terkesan kaku pada masa itu.
Dengan demikian, penulis mengutip pendapat dari salah satu tokoh yang bertematik
dekonstruksi yakni Peter Einsenman. Dekonstruksi bersifat bebas, tidak terikat, menantang
konsep matematika, mencoba melawan teori struktur, bersifat organik dengan penggunaan
material yang mampu meng-ekspresikan ide-ide organik.