Abstract :
Dalam suatu wilayah kota pastinya ada beberapa kelompok masyarakat yang memerlukan
alternative khusus untuk memenuhi kebutuhan serta mendapatkan pengenbangan individu maupun
kelompok yang ada di lingkungannya tersebut. Diantara kelompok masyarakat itu, terdapat
kelompok tertentu yang memerlukan perhatian lebih serta dukungan dari lingkungan sekitarnya,
bukan sekedar lingkungan pada umumnya.
Salah satu kelompok yang dimaksud adalah kelompok lanjut usia (Lansia). Populasi lansia di
kota Malang semakin tahun semakin meningkat, banyak lansia yang ingin menikmati masa tuanya
dengan hidup bahagia. Lansia membutuhkan ketentraman dan ketenangan di sisa hidupnya,
terkadang keinginan besar untuk menghibur diri tak terbalas karena keterbatasan fisik dan
produktifitas yang semakin menurun. Sehingga diperlukan wadah untuk lansia melakukan aktivitas,
berekreasi, bersosialisasi, serta perawatan.
Pusat perawatan dan rekreasi cenderung menekankan pada proses mendorong dan
memotivasi individu agar mempunyai kemampuan atau keberdayaan dalam menentukan apa yang
menjadi pilihan hidupnya dengan memiliki sisa potensi yang dimilikinya. Dengan demikian, lansia
akan berupaya untuk mengembangkan sisi inisiatif dan kreativitasnya sendiri dengan konsekuensi
para lansia dituntut bersedia untuk membuka diri dan belajar dalam upaya mengembangkan dirinya.
Perancangan desain berdasarkan perilaku, digabungkan dalam tiga poin utama yaitu pelaku,
pola dan aktifitas. Berdasarkan tiga poin utama tersebut, perancangan dapat dirancang dari perilaku
berdasarkan aksesbilitas pelaku, kebiasaan perilaku pelaku, berdasar psikologi arsitektur seperti
susunan ruang, bentuk, material, dan warna yang dipergunakan dalam perancangan.