Abstract :
Bencana adalah peristiwa yang dapat mengancam dan mengganggu
kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan oleh faktor alam
maupun non alam yang dapat menimbulkan korban jiwa, kerugian harta benda
serta dampak psikologi. Maysrakat yang bertempat tinggal di kawasan pesisir
saat ini belum sepenuhnya memahami bahwa tempat mereka tinggal
berpotensi terjadi bencana tsunami sewaktu serta kurangnya sosialisasi
menyebabkan kurangnya pengetahuan masyarakat tentang kebencanaan yang
sebenarnya berpotensi terjadi di lokasi tersebut. Pada tahun 1814, di pesisir
Kupang pernah terjadi bencana tsunami sehingga pengkajian terkait tingkat
risiko bencana tsunami sangat diperlukan khusunya di Kecamatan Kelapa
Lima yang merupakan pusat pelayanan Kota Kupang. Risiko bencana tsunami
yang dikaji dalam penelitian ini memiliki keterkaitan dengan pola pergerakan
orang sehingga dapat diketahui kawasan terbangun dan tidak terbangun mana
saja yang paling berisiko berdasarkan aktivitas masyarakat.
Metode yang digunakan untuk mencapai tujuan dalam penelitian ini
yaitu dengan menggabungkan metode kuantitatif untuk penialain risiko
bencana tsunami dan metode kualitatif untuk mendeskripsikan pola
pergerakan di wilayah peneltian.
Hasil penelitian menunjukan pada pagi hari yang paling berisiko
adalah Pasar Oesapa dan permukiman yang berada di pesisir Kelurahan
Oesapa. Pada siang hingga malam hari, toko-toko dan restoran yang berada di
pesisir Kelurahan Kelapa Lima termasuk kedalam risiko bencana tsunami
tinggi. Sedangkan pada kawasan tidak terbangun yang paling berisiko adalah
hutan bakau di Kelurahan Oesapa Barat.