Abstract :
Pengembangan kota merupakan salah satu strategi dalam memaksimalkan
potensi yang dapat memberi dampak bagi semua aspek. Perubahan fisik yang
sering ditemui dalam proses pengembangan kota adalah perkembangan kawasan
terbangun seperti permukiman, perkantoran, fasilitas perdagangan dan jasa yang
tumbuh dan berkembang dengan pesat. Oleh sebab itu pengembangan kota harus
disertai dengan perencanaan yang matang agar arah pertumbuhan kota dapat
dikendalikan. Pengembangan kota tentu tak lepas dari potensi yang ada pada
wilayah tersebut. mulai dari perekonomian, sosial, budaya dan aspek fisik lainnya.
Salah satu aspek fisik yang dapat dikembangkan dalam wilayah kota adalah
kawasan pesisir yang memiliki potensi alam yang dapat dijadikan sebagai
kawasan pariwisata. Wisata kota dapat menjadi alternatif dalam pengembangan
kota karena memiliki dampak yang besar pada aspek yang lainnya. Wisata alam
yang ada di kota yang paling diminati adalah wisata pantai dengan daya tarik
utamanya adalah pemandangan alam baik di darat maupun di perairannya seperti
sunset view, berenang, snorkling hingga naik sampan/perahu. Wisata pantai yang
ada di kota biasanya dibuat untuk memperkuat karakteristik dari kota tersebut
sesuai dengan identitas wajah kotanya.
Penelitian ini berkaitan dengan penataan 4 kawasan wisata pantai yang ada
di Kecamatan Kelapa Lima menggunakan pendekatan sesuai dengan teori kriteria
waterfront city dari Prabudiantoro, 1997 dan teori elemen waterfront city dari
Steiner dan Butler, 2007, pendekatan penyusunan konsep menggunakan
triangulasi sumber data dari Norman K. Denkin, 2009 dan pedoman dari buku
standar perencanaan tapak oleh Joseph De Chiara dan Lee e. Koppelman, 1997.
Keluaran dari penelitian ini adalah diketahui elemen-elemen waterfront city yang
terdapat di kawasan wisata pantai, terbentuknya konsep pengembangan
waterfront city di kawasan wisata pantai, diketahui rancangan penataan kawasan
wisata pantai berupa desain rancangan kawasan wisata pantai menggunakan
konsep watefront city