Institusion
Institut Teknologi Nasional Malang
Author
Kirana, Gusti Ayu Putu Tasia
Subject
Geodesy Engineering
Datestamp
2022-01-18 01:34:56
Abstract :
Keterbatasan lahan di pusat kota menyebabkan perkembangan kota tersebut
meluas ke arah daerah pinggiran sehingga luasan areal terbangun semakin
bertambah. Kota Denpasar merupakan kota terpadat di Provinsi Bali dengan
jumlah sektor pariwisata yang terus meningkat sehingga menyebabkan daerah
aliran air di kota Denpasar juga semakin memperihatinkan karena laju
pertumbuhan kawasan terbangun di Kota Denpasar. Selain faktor jumlah
penduduk, pembangunan dari sektor pariwisata, penyebab lainnya yaitu ruang
terbuka hijau perkotaan yang minim disertai dengan dampak dari faktor tersebut
yaitu banjir yang sering terjadi khususnya pada musim-musim penghujan.
Kawasan/daerah resapan air seharusnya menjadi hal yang patut diperhatikan
untuk keberlangsungan masyarakat Kota Denpasar khususnya dan masyarakat
Bali pada umumnya.
Melalui penelitian ini, dilakukan pengamatan studi perubahan untuk kawasan
resapan air di Kota Denpasar dari tahun 2016-2020 menggunakan citra satelit
sentinel-2 untuk klasifikasi supervised tutupan lahan dan menggunakan 5
parameter yaitu curah hujan, jenis tanah, jenis batuan/geologi, kemiringan lereng,
dan kerapatan aliran sungai. Penelitian ini menggunakan metode skoring dan
overlay.
Dari penelitian ini didapatkan hasil dengan 6 kelas klasifikasi dalam kawasan
resapan air yaitu baik, normal alami, agak kritis, mulai kritis, kritis, dan sangat
kritis, dimana pada tahun 2016-2020 kelas yang memilliki luas tertinggi yaitu
kritis yang ada di kecamatan Denpasar Selatan yaitu pada tahun 2016 kritis seluas
19,084 km2, 2017 kritis seluas 19,650 km2, 2018 kritis seluas 19,880 km2, 2019
kritis seluas 23,015 km2, dan 2020 kritis seluas 22,984 km2. Dengan output
penelitian yang disajikan dalam bentuk peta kawasan resapan air tahun 2016-
2020.