Abstract :
Perkembangan perindustrian saat ini berkembang pesat terutama industri berskala
rumah tangga. Industri tempe adalah salah satu produksi yang menerapkan sistem
sederhana. salah satu industri tempe yang masih menerapkan sistem sederhana yakni
industri tempe Lingkungan Taman Karang Baru, Kecamatan Selaparang Kota Mataram
dengan pemakaian kedelai rata-rata 15 ton per hari. Proses produksi tempe diantaranya
pencucian, perendaman, perebusan, pengasaman, dan pemisahan kulit kedelai, setiap
proses menggunakan air sehingga limbah cair yang dihasilkan sangat banyak. Limbah
pembuatan tempe dapat menurunkan konsentrasi oksigen terlarut sehingga menimbulkan
bau busuk. Pengolahan air limbah menggunakan metode kombinasi filtrasi dan
fitoremediasi adalah metode yang efektif dan mudah bagi produsen industri tempe.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan metode filtrasi-fitoremediasi
dalam pengolahan air limbah hasil pencucian kedelai industri tempe terhadap penurunan
BOD, COD dan TSS.
Penelitian ini menggunakan variabel variasi waktu kontak selama 7, 14 dan 21 hari
serta variasi jumlah tanaman sebanyak 8, 16 dan 24 buah. Pengambilan sampel dilakukan
sebanyak 3 kali selama kurun waktu 21 hari (7 hari sekali). Fitoremediator yang digunakan
ialah tanaman Eceng Gondok (Eichornia Crassipes) dikarenakan memiliki kemampuan
daya serap polutan yang lebih tinggi dari tanaman air lainnya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi filtrasi-fitoremediasi mampu
menurunkan konsentrasi kadar BOD sebesar 99,88%, COD sebesar 98,13% dan TSS
sebesar 97,96% dalam waktu 21 hari dan jumlah tanaman sebanyak 24 buah.