Abstract :
Meningkatnya jumlah PKL di Kota Malang memberikan dampak positif
karena dapat membantu perekonomian masyarakat dengan membuka lapangan
pekerjaan secara mandiri. Disisi lain keberadaan pedagang kaki lima
memunculkan fenomena baru dalam proses terbentuknya ruang, pemanfaatan
ruang, hingga interaksi para pedagang dalam pembentukkan ruang. Sehingga
dibutuhkan penataan ruang bagi pedagang kaki lima dalam proses terbentuknya
ruang tersebut. Penataan ruang pedagang kaki lima berada di koridor jalan Kyai
Tamin. Jalan yang identik dengan kegiatan perdagangan ini, memiliki pasar
malam andalan untuk pedagang kaki lima yang resmi dibuka pada tanggal 29
November 2015. Namun dalam perjalanannya, kegiatan tersebut belum tertata
sesuai dengan keinginan dari pengunjung maupun pembeli. Metode yang
digunakan dalam penelitian adalah deskriptif kualitatif menganalisa sasaran
pertama, sedang untuk sasaran kedua menggunakan distribusi frekuensi dan
sasaran ketiga menggunakan behavior mapping.Hasil analisa dengan
menggunakan metode deskriptif kualitatif terkait karakteristik ruang PKL adalah
masih banyak fasilitas yang belum dapat melayani pengunjung dengan baik. Hal
ini dilihat dengan masih banyak terdapat fasilitas Di Night market yang rusak dan
letaknya tidak sesuai dengan kebutuhan baik pengunjung maupun penjual Dari
hasil analisa persepsi pengunjung dan pedagang terlihat bahwa 60% pedagang
memilih berjualan dengan pedagang yang bermacam jenis bercampur. Sedangkan
56,52% pengunjung menginginkan pedagang yang berjualan dengan sejenis
dikelompokkan. Untuk itu perlu adanya konsep penataan lokasi Night market
berdasarkan persepsi pembeli dan penjual di Night Market.