Abstract :
Ekosistem Mangrove Pulau Panjang di Sumbawa Besar memiliki status sebagai hutan pelestarian atau
hutan lindung bernama KSA (Konservasi Sumberdaya Alam) Pulau Panjang. Hal ini bukan jaminan bahwa
ekosistem mangrove dapat menghindari tekanan yang disebabkan oleh perubahan dan konversi. Hutan
mangrove cenderung memberikan manfaat bagi masyarakat kecil, tetapi apa yang mereka lakukan sebenarnya
mengakibatkan menurunya daya dukung dan kualitas ekosistemnya dengan aktivitas seperti; membuat tambak
liar, penebangan pohon dan lain sebagainya. Situasi ini tentu saja, menurunkan fungsi dan keuntungan dari
hutan mangrove di Pulau Panjang. Perlu adanya analisis untuk menentukan sistem pengelolaan mangrove itu
sendiri sehingga dapat dilestarikan dengan skenario konservasi. Dari analisis vegetasi dan pengamatan saat
survey dapat dilihat bahwa eksploitasi ekosistem mangrove masih terjadi, apa yang dapat dilakukan? apakah
dibiarkan terjadi terus terjadi?
Berdasarkan latar belakang tersebut maka merujuk pada data analisis vegetasi mangrove pulau panjang,
penelitian ini bertujuan menciptakan sistem pengelolaan ekosistem mangrove yang berkelanjutan. Pulau
Panjang memiliki 5 transek, masing-masing transek memiliki tingkat kualitas dan keberagaman yang berbeda.
Transek yang berada di utara pulau cenderung masih dalam kondisi baik. Sedangkan tiga transek lainnya
tergolong sedang dan buruk.