Abstract :
PT Meindo Elang Indah adalah salah satu kontraktor EPCI (Engineering, Procurement,
Construction, Instalation) untuk industri petrokimia, energi, hulu minyak dan gas. Proses
pengelasan merupakan salah satu proses atau tugas yang paling kritis dalam pelaksanaan proyek
oil & Gas industri. Dalam pengerjaannya peneliti banyak penemukan pengelasan yang defect.
Hal ini memotivasi penulis untuk melakukan penelitian mengenai kinerja kualitas pengelasan
di Perusahaan tersebut, terutama pada bagian fabrikasi. Adapun alternatif penyelesaian masalah
mengenai kualitas pengelasan dapat dilakukan dengan analisis metode Six Sigma. Berdasarkan
hasil survey ditemukan Welding Defect Rate yang terjadi selama bulan agustus hingga oktober
2020 yaitu rata-rata sebesar 7.58%, nilai tersebut jauh dari target welding defect yang sudah
ditentukan yaitu sebesar 1%, sehingga perlu dilakukan tindakan perbaikan. Tujuan yang ingin
dicapai dari penelitian ini adalah: Upaya dalam memberikan rekomendasi perbaikan dalam
menurunkan tingkat defect rate proses pengelasan yang tinggi dalam rangka mencapai on time
delivery pada perusahaan PT. Meindo elang Indah.
Penelitian ini dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan documentasi untuk
mendapatkan data-data yang dibutuhkan dalam penelitian ini. Jenis data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah data sekunder. Analisis data dilakukan dengan menghitung persentase
jumlah defect setiap bulannya selama tiga bulan, setelah mendapatkan hasil persentase
dilakukan perhitungan DPMO dan nilai level Sigma yang diperoleh. Setelah mendapatkan nilai
sigma dilakukan analisis diagram pareto dan diagram sebab-akibat untuk mengetahui
karakteristik defect apa saja yang paling banyak di identifikasi.
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa diperoleh Sigma level yang dicapai rata-rata
sebesar 3.67 level sigma, hasil dari diagram pareto ditemukan bahwa karakteristik defect
Undercut dan Porosity merupakan jenis defect yang paling banyak terjadi yaitu sebesar 27%,
mengikuti Incomplete Penetran 19%, Slag Inclusion 17%, Incomplete Fusion 10%. Pada
analisis FMEA didapat bahwa faktor Manusia dan Metode merupakan faktor yang paling
berdampak pada defect rate pengelasan, yaitu dengan RPN (risk Priority Number) sebesar 252
& 315.