Abstract :
Museum Arkeologi di Trenggalek memiliki tujuan untuk mencoba memberikan
alteratif desain untuk menjawab kebutuhan DISPARHUB Kabupaten Trenggalek yang
menginginkan untuk membuat sebuah Museum. Tujuan lainnya adalah mencoba
menghidupkan kawasan perdaganan yang berada di sekitar tapak dari desain perancangan
ini. Selain itu tujuan perancangan ini untuk memberikan alternatif tempat wisata berupa
sebuah bangunan dikarenakan mayoritas tempat wisata di Trenggalek adalah wisata alam.
Juga bertujan sebagai pusat pendidikan dalam sejarah berupa adanya sebuah perpusatakaan
yang berisikan literasi sejarah. Hal tersebut didukung denga banyaknya penemuan
Arekologi yang tersebar diwilayah Trenggalek dengan penuan situs, sendang dan Artefak.
Metode desain yang dipakai adalah Metode Perancangan dari Bryan Lawason
dimana Metodenya memiliki lima tahap yang dinamakan berfikir kreatif. Dalam metode
ini mencoba mengatasi beberapa permasalahan utama yaitu Perletakan sirkulasi menuju
tapak dikarenakan tapak berada disamping pertigaan, karena hal tersebut sirkulai menuju
tapak dijauhkan dari pertigaan untuk menghindari kemacetan. Permasalahan lainnya adalah
tidak adanya peneduh untuk melindungi bangunan ataupun area pada tapak, karena itu
desain bangunan dibuat untuk mengatasi hal tesebut dan pada tapak diletakkan beberapa
pohon peneduh, pohon penghias dan pohon pengarah untuk mengurangi suhu tinggi di area
tapak. Fungsi Utama bangunan yaitu sebagai museum, namun fungsi tersebut tidak bisa
bertahan lama tanpa fungsi penunjang lainnya. Karena hal tersebut pada bangunan museum
memiliki fungsi penunjang yaitu caffe & food untuk menunjang keuangan dan perputakaan
untuk menarik minat para pelajar untuk meramaikan bangunan tersebut. Penerapan tema
pada bangunan juga memberikan permasalah dimana tema Arsitektur Modern harus bisa
menghidupkan suasana dan selaras dengan fungsi utama yaitu museum.
Dengan demikian diharapkan fasilitas ini mampu menjadi ikon baru di Kabupate
Trenggalek untuk tujuan wisata edukasi yang dapat memikat seluruh wisatawan dari
berbagai umur khususnya masyarakat daerah Kabupaten dan sekitar. Fasilitas ini
diharapkan juga menjawab kebutuhan para pegiat sejarah untuk menjadi wadah edukasi
sejarah.