Institusion
Institut Teknologi Nasional Malang
Author
GEDEONA, ADRIANUS AMAPATI
Subject
Area Planing Engineering (PWK)
Datestamp
2019-03-06 03:10:36
Abstract :
Ruang terbuka publik di perumahan merupakan fasilitas yang
harus disediakan oleh pengembang; memiliki peran penting sebagai pusat
komunitas (untuk bersosialisasi, berolahraga, meningkatkan kualitas
lingkungan hunian. Pada kenyataannya, terdapat perubahan fisik dan
pemanfaatan ruang tersebut dari rancangan semula sesuai dengan
kepentingan penghuni serta campur tangan pengembang dan pemerintah.
Bahkan pada Perumahan menengah Rendah Joyoggrand tidak didapati ruang
terbuka publik yang layak. Dengan menggunakan analisa kualitatif,
penelitian ini mencoba mengidentifikasi bentuk fisik ruang terbuka publik,
kegiatan sosial dan ekonomi penghuni dan mengidentifikasi pemanfaatan
ruang terbuka publik di perumahan Joyogrand. Diharapkan akan
terumuskan kebutuhan ruang publik berdasarkan Jangkauan pelayanan,
Pemanfaatan tertinggi, Fasilitas dengan ragam kegiatan tertinggi,
Pemanfaatan ruang publik untuk kegiatan pribadi dan Pemanfaatan ruang
publik untuk kegiatan ekonomi. Penilaian dilakukan berdasarkan kelompok
warga yang dibagi dalam 5 kelompok, yaitu Anak-anak, Remaja, Dewasa
perempuan, Dewasa laki-laki dan Lansia. Berdasarkan observasi, didapati
empat ruang terbuka publik yang ditemui di lapangan, yaitu RTH pengaman
SUTT, jalan, ruang terbuka pada fasilitas umum, dan ruang terbuka publik
swadaya. Berdasarkan penelitian, bentuk fisik Ruang terbuka publik yang
paling banyak dimanfaatkan warga adalah yang memilik lantai semen /
aspal, Ukuran tidak menentukan disukai atau tidak, Tidak berpagar, Dekat
dengan rumah dan memiliki Tingkat bahaya rendah. Berdasarkan kegiatan
warga, maka ruang terbuka publik yang paling banyak digunakan oleh warga
adalah jalan lingkungan dan ruang terbuka publik swadaya. Dengan radius
bertetangga 350 m sebagai wilayah pelayanan ruang terbuka publik, untuk
perumahan menengah kecil dibutuhkan ruang terbuka publik dengan
karakter :
1. Mempertimbangkan kedekatan dengan rumah sebagai territory
terutama untuk perempuan dewasa dan anak-anak.
2. Ruang terbuka publik hendaknya terbuka fleksibel, sesuai dengan
lingkungan setempat, serta berada di tengah lingkungan hunian
dapat meningkatkan kegiatan, frekuensi pemanfaatan, interaksi
sosial, dan toleransi di dalam ruang.
3. Ruang terbuka publik tidak dipengaruhi oleh area maupun luas
ruang namun oleh integrasi ruang, akses, dan sikap pengguna.
4. Penempatan ruang terbuka publik yang baik adalah di tengah
lingkungan hunian (dan tersebar di beberapa lokasi.