Abstract :
Masa remaja dianggap sebagai transisi antara masa kanak-kanak ke masa dewasa yang ditandai dengan adanya perubahan fisik, emosi, kognitif dan sosial. Perubahan yang dialami selama masa remaja ini berupa masalah eksternal dan internal dapat berasal dari pola asuh yang mengakibatkan remaja mengalami kecemasan sosial. Remaja merasakan kecemasan sosial dikarenakan pola asuh orang tua yang terlalu memproteksi anaknya secara berlebihan seperti keras dalam menegakkan kedisiplinan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pola asuh otoriter dengan kecemasan sosial pada remaja. Hipotesis yang diajukan adalah ada hubungan yang positif antara pola asuh otoriter dengan kecemasan sosial pada remaja. Subjek penelitian ini berjumlah 113 orang remaja dengan rentang usia 15 tahun sampai 18 tahun. Cara pengambilan subjek dengan menggunakan metode purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan skala pola asuh otoriter dan skala kecemasan sosial. Teknik analisis data yang digunakan adalah correlation product moment dari pearson. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh koefisien korelasi R sebesar 0,467 dengan p = 0,000 (p < 0,050). Hasil tersebut menunjukkan terdapat hubungan yang positif antara pola asuh otoriter dengan kecemasan sosial pada remaja, yang berarti semakin tinggi pola asuh otoriter maka semakin tinggi juga kecemasan sosial pada remaja. Begitu pula sebaliknya, semakin rendah pola asuh otoriter maka semakin rendah juga kecemasan sosial pada remaja.