Abstract :
Jumlah penduduk yang mengalami penuaan (aging) di tingkat global dan Indonesia
terus meningkat setiap tahunnya. Kunir putih (Curcuma mangga Val.) mampu
mencegah gejala penuaan (aging) secara dini akibat dari paparan sinar UV dan radikal
bebas. Kunir putih (Curcuma mangga Val.) merupakan salah satu tanaman herbal yang
memiliki potensi besar sebagai sumber antioksidan alami. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui efek pemberian kunir putih terhadap aktivitas antioksidan sebagai
antiaging melalui analisis kadar, SOD, MDA dan VEGF pada tikus Sprague Dawley.
Perlakuan selama 21 hari pada Kelompok yang dikondisikan normal tanpa
penambahan D-Galaktosa adalah (kelompok tikus sehat, pakan standar) dan kelompok
yang dikondisikan dengan penambahan (D-Galaktosa 1000 mg / kg + aquabides),
dengan penambahan (D-Galaktosa 1000 mg / kg + kunir putih dengan dosis 0,054 g /
200 g BB) dan dengan penambahan (D-Galaktosa 1000 mg / kg + Vitamin-E 9 IU /
200 g). Analisis statistik dari data yang diperoleh digunakan one way anova, dengan
tiga perlakuan meliputi kadar SOD, MDA dan VEGF pada akhir pemberian kunir
putih.
Hasilnya diketahui pada kelompok yang dikondisikan dengan penambahan DGalaktosa setelah perlakuan selama 21 hari, kadar SOD berturut-turut 25,71 ± 2,70%,
68,57 ± 4,29% dan 76,78 ± 2,82%. sedangkan kadar MDA juga berturut-turut sebesar
9,76 ± 0,31%, 3,76 ± 0,41% dan 2,74 ± 0,15%. Begitu juga dengan kadar VEGF yang
berturut-turut 17,44 ± 0,73%, 22,84 ± 0,50% dan 26,18 ± 0,01%. Pemberian kunir putih
berpengaruh nyata sebagai antioksidan dan antiaging, hal ini dapat dibuktikan melalui
uji analisis kadar SOD, MDA dan VEGF yang berturut-turut berpengaruh secara nyata
(p<0,05).