Abstract :
Persimpangan sebidang merupakan daerah yang potensial untuk terjadinya konflik
akibat adanya bermacam-macam jenis pergerakan arus lalu lintas. Berdasarkan
pengaturannya persimpangan sebidang terdiri dari dua macam, yaitu persimpangan
bersinyal dengan alat pengatur lampu lalu lintas dan persimpangan tak bersinyal.
Simpang lalu lintas tak bersinyal merupakan kondisi yang bias membingungkan bagi
pengguna jalan, dan bias membuat ragu-ragu dalam mengambil keputusan untuk
melakukan proses crossing. Penelitian ini berusaha menganalisis tingkat keselamatan
pejalan kaki pada persimpangan bersinyal menggunakan aplikasi Vissim dan SSAM
untuk mengetahui jumlah dan jenis konflik, sehingga dapat memberikan usulan
penanganan guna meminimalisir tingkat konflik dan keparahan pejalan kaki yang
mengalami kecelakaan.
Penelitian ini menggunakan data sekunder dan data primer. Data sekunder berupa
data kecelakaan, data geometric simpang, sedangkan data primer diperoleh dengan
survei meliputi ; data jumlah pejalan kaki, karateristik pejalan kaki, data volume dan
kecepatan kendaraan yang melewati simpang, volume dan kecepatan meyeberang
pejalan kaki
Dari hasil analisis, dapat diketahui jumlah konflik 170 dengan terdiri dari 92 crossing
, 64 rear end, dan 15 lane change. Dengan jumlah pejalan kaki menyeberang 524
untuk satu hari di seluruh simpang dan volume kendaraan sejumlah 3.753 dalam satu
hari. Alternative penanganan simpang yang dipilih berupa penambahan pengaturan
simpang dengan 4 fase yang semula 3 fase karena dapat mengurangi terjadinya
konflik lalu lintas. Dari hasil analisis penanganan diperoleh jumlah konlik menurun
31% dengan total 118 konflik yang terdiri dari 0 crossing , 96 rear end , dan 22 lane
change menurut SSAM