Abstract :
Metode pengukuran kinerja keselamatan transportasi jalan belum ada di
Indonesia. RUNK Jalan 2011-2035 menargetkan penurunan tingkat fatalitas 80%
pada tahun 2035 berdasarkan tingkat fatalitas per 10.000 kendaraan, per 100.000
penduduk dan per jumlah kejadian (CFR). Pengukuran kinerja menggunakan tiga
indikator tersebut mengalami kendala ketika ketiganya menunjukkan pernyataan
pencapaian yang berbeda-beda sehingga tidak didapatkan kesimpulan yang jelas.
Penelitian ini bertujuan mendapatkan indeks tunggal dari tiga indikator tersebut
untuk mengukur kinerja keselamatan transportasi jalan di satu daerah.
Untuk mencapai tujuan penelitian, dilakukan studi literatur untuk mendapatkan
referensi dan melakukan benchmarking di beberapa negara yang telah melakukan
pengukuran kinerja keselamatan. Analisis kepustakaan digunakan untuk
menguraikan teori yang terkait dengan tiga indikator keberhasilan RUNK Jalan dan
bagaimana menggabungkan tiga indikator tersebut menjadi indeks tunggal. Teori
yang telah diuraikan selanjutnya dipadukan (sintesis) untuk membangun satu
konsep baru dalam mengukur kinerja keselamatan.
Untuk menggabungkan tiga indikator RUNK Jalan, simple aggregated indexes
merupakan metode yang sesuai karena tiga indikator diberi target yang sama
besar. Indeks kinerja disajikan dalam bentuk persentase dan disebut dengan
Indeks Kinerja Keselamatan Transportasi Jalan. IKKTJ diaplikasikan secara empiris
di 6 kabupaten/kota dengan mempertimbangkan ketersediaan data dan klasifikasi
ukuran wilayah berdasarkan jumlah penduduk. Hanya dua dari enam daerah yang
telah mencapai target RUNK Jalan, yaitu Kota Surabaya (IKKTJ 90,65%) dan Kota
Tegal (IKKTJ 42,37%). Empat daerah lainnya masih jauh dari target karena tingkat
fatalitas yang diharapkan menurun justru mengalami peningkatan, ditandai
dengan nilai negatif, antara lain: Kota Kediri IKKTJ -52,47%, Kabupaten Tegal
IKKTJ -153,55%, Kabupaten Purbalingga IKKTJ -181,65% dan Kabupaten Sleman
IKKTJ -292,72%.