Abstract :
Perkembangan teknologi di bidang otomotif tidak dapat dihindari, baru-baru
ini sudah marak dikembangkan sistem pendingin berbasis peltier sebagai sistem
pendingin untuk mengatasi masalah panas pada bidang otomotif, sistem pendingin
yang dikembangkan sampai saat ini terbatas pada aliran satu fase fluida cair
maupun gas, sedangkan penggunaan aliran dua fase sudah dikembangkan pada
heat exchanger (alat penukar panas) di bidang industri. Penelitian ini dilakukan
untuk mengetahui bagaimana pengaruh aliran dua fase udara-air terhadap sistem
pendingin berbasis peltier. Dalam penelitian ini metode eksperimen dilakukan
dengan memvariasikan kecepatan superfisial air yaitu 0,19 m/s, 0,39 m/s,
0,59m/s, dan 0,79m/s, kemudian kecepatan superfisial udara yaitu 0m/s, 3,7 m/s,
7,5m/s, 11,7m/s, 15,6m/s, dan 19,5m/s, serta 3 model waterblock diuji apakah
memiliki perbedaan terhadap penuruan suhu sistem pendingin berbasis peltier.
Pengamatan visual juga dilakukan untuk mengetahui pola aliran yan terjadi pada
masing-masing variasi kecepatan superfisial air dan udara. Dari eksperimen yang
telah dilakukan didapatkan data pola aliran, liquid thickness, penuruan suhu di
setiap variasi kecepatan superfisial air dan kecepatan superfisial udara pada 3
model waterblock, serta perbandingan perolehan suhu minimum dari 3 model
waterblock. Dari eksperimen tersebut didapatkan 4 pola aliran (tanpa pola aliran,
roll wave, pseudo slug, entrained droplet) Dengan menggunakan uji statistik
kruskal wallis dapat disimpulkan bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan dari 4
pola aliran tersebut terhadap suhu minimum yang dicapai oleh sistem pendingin
berbasis peltier. Dari uji statistik regresi linier berganda didapatkan bahwa
kecepatan superfisial air tidak berpengaruh secara signifikan sedangkan kecepatan
superfisial udara berpengaruh secara signifikan, dan kecepatan superfisial air dan
udara tidak berpengaruh secara simultan terhadap perubahan suhu. Dengan
menggunakan uji statistik one way anova menunjukan adanya perbedaan secara
nyata suhu minimum yang dicapai dari ketiga model waterblock tersebut. Dimana
waterblock model 1 (tanpa alur) menunjukkan kemampuan untuk mencapai suhu
minimum lebih baik dibanding dengan waterblock model 2 dan 3.