Abstract :
Lingkungan bengkel merupakan area kerja dengan risiko yang bervariatif
yang dapat menimbulkan kecelakaan kerja. Secara garis besar faktor penyebab
kecelakaan kerja berasal dari tindakan manusia yang tidak memenuhi keselamatan
kerja dan keadaan lingkungan yang tidak aman. PT. Siliwangi Antar Nusa Solo
merupakan perusahaan transportasi yang belum menerapkan K3 di perusahaan.
Maka diperlukan identifikasi terkait bahaya dan risiko dilingkungan bengkel untuk
mewujudkan lingkungan kerja yang aman dan jaminan pada pekerja. Pendekatan
deskriptif kualitatif digunakan untuk mencari fenomena, sifat, atau asal
permasalahan. Data diperoleh dari wawancara dan diolah menggunakan HIRADC
serta dilakukan analisa lanjutan pada aktivitas yang memiliki kriteria dengan
metode JSA.
Terdapat 23 aktvitas kemudian didapat 29 risiko kerja, setelah dilakukan
analisa dengan tabel HIRADC didapat hasil 3 aktivitas dengan risiko tinggi, 14
aktivitas dengan risiko sedang dan 12 aktivitas dengan risiko rendah. Lalu
mendapatkan 6 aktivitas yang sesuai dengan kriteria Job Safety Analysis. Seperti
aktivitas pengecekan Bearing roda luar, pengecekan engsel pintu, pengecekan
kebocoran freon, cek kampas rem, pengecatan Body dan pendempulan Body. Pada
analisa bahaya dan risiko di lingkungan kerja didapat 11 area kerja dan 14 risiko.
Didapat 2 risiko sedang dan 12 risiko rendah.
Pengawasan terkait bahaya dan risiko di lingkungan kerja sangatlah penting
dilakukan untuk mengurangi risiko akibat kerja. Selain itu fasilitas yang mumpuni
juga perlu di perhatikan seperti fasilitas perbaikan sesuai dengan aturan, alat
pelindung diri untuk mengurangi risiko akibat kecelakaan, dan kebiasaan
memelihara lingkungan kerja yang sehat dan selamat.