Abstract :
Permasalahan BRT Trans Mamminasata yaitu titik pemberhentian tidak adanya halte, rambu atau marka bus stop tidak ada, titik pemberhentian tidak sesuai dengan bangkitan dan tarikan penumpang. Lokasi titik pemberhentian BRT Trans Mamminasata seharusnya mudah dijangkau, namun fakta di lapangan banyak pengguna BRT Trans Mamminasata yang tidak memanfaatkan lokasi titik halte tersebut sehingga aksesibilitas dan pergerakan penumpang tidak maksimal dan penggunaanya terkesan sia-sia.
Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan menganalisis variabel penelitian untuk mengetahui kinerja operasional BRT Trans Mamminasata. Objek dalam penelitian terkait penentuan lokasi titik halte BRT Trans mamminasata Pada koridor 2. menggunakan model Set Covering Problem dan Max Covering Problem menggunakan aplikasi Lingo 18.0. Berdasarkan hasil analisis Kinerja Operasional BRT Trans Mamminasata koridor 2 masih ada 9 indikator yang belum memenuhi Standar Pelayanan Minimal SK DIRJEN HUBDAT No. 687 Tahun 2002. Koridor 2 BRT Trans Mamminasata terdapat 51 titik lokasi yang berpotensi menimbulkan pergerakan penumpang tinggi. Dari hasil analisis aplikasi Lingo Penetapan titik halte menggunakan Set Covering Problem pada koridor 2 terdapat 30 titik pemberhentian rute berangkat dan terdapat 27 titik pemberhentian rute pulang.
Berdasarkan dari hasil analisis operasional dan titik pemberhentian, penulis memberikan solusi dari evaluasi pada titik pemberhentian yaitu pengurangan, penambahan, dan pergeseran pada titik-titik yang tidak memenuhi kriteria. Teradapat 8 titik pemberhentian, penulis memberikan solusi untuk dilakukan pengurangan. Terdapat 2 titik pemberhentian, penulis memberikan solusi untuk dilakukan pergeseran.