Institusion
Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
Author
Annisa Fitri Akmal*,
Endah Marianingsih Theresia,
Margono,
Subject
RG Gynecology and obstetrics
Datestamp
2020-06-15 08:42:05
Abstract :
Latar Belakang : Ikterus Neonatorum pada bayi baru lahir merupakan gejala
fisiologis dan dapat menjadi hal patologis. Ikterus yang terjadi pada bayi berusia 0-
7 hari disebut ikterus neonatorum dini. Ikterus neonatorum adalah salah satu
penyebab kematian neonatal (0-6 hari) dengan prosentase 6% di Indonesia. Angka
kejadian ikterus neonatorum di DIY sebanyak 39,8% dan di RSUD Wates
mengalami peningkatan pada tahun 2017 sebesar 8,4%. Sementara itu, prevalensi
BBLR di Kabupaten Kulon Progo tertinggi diantara kabupaten lain di DIY.
Prevalensi BBLR di RSUD Wates mengalami peningkatan sebesar 1,8%. Ikterus
neonatorum dan BBLR merupakan 5 penyakit terbesar di ruang perinatologi RSUD
Wates Kulon Progo.
Tujuan Penelitian : Untuk mengetahui rasio prevalensi berat badan lahir rendah
terhadap ikterus neonatorum dini.
Metode Penelitian : Penelitian ini menggunakan desain cross secsional dengan
consecutive sampling. Subyek penelitian adalah bayi usia 0-7 hari di RSUD Wates
tahun 2017 berjumlah 250 orang. Data diambil dari rekam medis mulai tanggal 16-
26 April 2019.
Hasil Penellitian: Ikterus neonatorum dini pada bayi dengan berat badan lahir
rendah (71,4%) lebih besar dari ikterus neonatorum dini pada bayi dengan berat
badan lahir normal (29,3%). Berdasarkan uji chi-square diketahui bahwa ada
hubungan berat badan lahir dengan kejadian ikterus neonatorum dini dengan p-
value 0,001 dan RP=2,438 (95% CI = 1,815-3,274)
Kesimpulan : Bayi dengan berat badan lahir rendah berpeluang terjadi ikterus
neonatorum dini 2,4 kali lebih besar dibandingkan dengan bayi dengan berat badan
normal