Abstract :
Tanaman katuk merupakan tanaman tradisional yang bermanfaat sebagai pelancar
ASI. Selain itu tanaman katuk mempunyai manfaat sebagai antibakteri dan
mengandung beta karoten sebagai zat aktif warna karkas. Tujuan dari penelitian ini
untuk mengetahui perbedaan hasil rendemen dari ekstrak daun katuk yang
diekstraksi dengan jenis pelarut yang berbeda.
Ekstrak daun katuk dibuat dengan metode maserasi dan menggunakan pelarut
metanol, n-heksan, dan kloroform (50 gram : 500 ml). hasil ekstrak dilakukan uji
kualitatif skrining fitokimia dengan uji warna menggunakan beberapa pereaksi dan
uji kuantitatif dengan kromatografi lapis tipis yang terdiri dari minyak atsiri,
saponin, glikosida, alkaloid, flavonoid, dan tanin.
Hasil skrining fitokimia diperoleh senyawa saponin, glikosida, alkaloid, flavonoid,
dan tanin. Hasil kromatografi lapis tipis senyawa alkaloid tertarik dalam ketiga jenis
pelarut, senyawa flavonoid tertarik dalam ekstrak metanol, minyak atsiri tertarik
dalam ekstrak n-heksan, saponin tertarik dalam ekstrak n-heksan dan kloroform,
dan senyawa glikosida tertarik dalam ekstrak kloroform.