Abstract :
Pengobatan tuberkulosis jangka panjang dapat menimbulkan terjadinya efek samping yang menyebabkan kekhawatiran pada pasien. Selain itu, efek samping yang dialami pasien berdampak pada kepatuhan berobat dan putus obat. Putus obat menyebabkan resistensi kuman sehingga memperberat penyakit. Upaya untuk mengendalikan terjadinya putus obat karena efek samping obat dibutuhkan adanya peran apoteker dan kader dalam memantau pasien tuberkulosis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi secara kualitatif pemahaman dan tindakan apoteker dan kader dalam pemantauan obat anti tuberkulosis di Puskesmas Mlati II Sleman.
Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Subyek penelitian meliputi apoteker dan kader TB yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Instrumen pada penelitian ini adalah panduan wawancara mendalam yang digunakan untuk mengumpulkan data. Data meliputi pemahaman dan tindakan tentang efek samping obat, kepatuhan minum obat dan keberhasilan pengobatan TB.
Hasil wawancara dianalisis secara tematik menggunakan software QSR NVivo 12. Tema yang teridentifikasi dalam penelitian ini antara lain 1) persepsi dalam pemantauan efek samping obat, 2) persepsi dalam pemantauan kepatuhan minum obat, dan 3) persepsi dalam pemantauan keberhasilan pengobatan.
Kesimpulan penelitian ini adalah pemahaman dan tindakan apoteker dalam pemantauan pengobatan TB sudah baik. Sedangkan pemahaman dan tindakan kader mengenai efek samping obat belum cukup baik, namun mengenai pentingnya kepatuhan minum obat dan keberhasilan pengobatan sudah baik.