Abstract :
Nomophobia merujuk pada rasa tidak nyaman atau kegelisahan yang muncul saat seseorang tidak memiliki akses ke ponsel, komputer pribadi, atau alat komunikasi virtual lainnya. Idealnya, pengguaan smartphone seharusnya efisien dan sesuai dengan fungsinya yang positif. Namun kenyataannya, banyak remaja mengalami kesulitan dalam mengatur penggunaan smartphone secara tepat. Oleh karena itu, langkah-langkah diperlukan untuk mengurangi perilaku nomophobia pada siswa, salah satunya adalah dengan memberikan layanan konseling kelompok, dengan tujuan untuk menghindari dampak negatif dari nomophobia (No-Smartphone Phobia). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan layanan konseling kelompok cognitive restructuring untuk mereduksi nomophobia pada siswa kelas X SMA Negeri 2 Bantul.
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen dengan desain penelitian Pre-Eksperimental Design menggunakan model one group pretest posttest design. Penentuan subjek menggunakan teknik non probability sampling design dengan purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan wawancara dan skala nomophobia. Subjek penelitian adalah siswa kelas X di SMA Negeri 2 Bantul, yaitu 5 orang siswa. Uji validitas dan reliabilitas instrumen menggunakan rasch model, dan uji efektivitas menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test.
Berdasarkan penelitian yang dilaksanakan diperoleh hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai Asymp. Sig (2-tailde) sebesar 0,043 < 0,05, maka Ho ditolak dan Ha diterima. Berdasarkan penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa layanan konseling kelompok cognitive restructuring efektif untuk mereduksi nomophobia pada siswa. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi data dasar informasi untuk penelitian selanjutnya dengan mengembangkan judul penelitian ini dengan menambahkan atau mengganti variabel sampel yang lebih luas. Khususnya variabel mengenai nomophobia.