Abstract :
Bisfenol-A (BPA) adalah senyawa kimia organik yang digunakan secara luas dalam industri untuk pembuatan berbagai produk plastik dan resin. BPA terutama digunakan sebagai bahan dasar dalam produksi polikarbonat, suatu jenis plastik yang memiliki sifat tahan lama, transparan, dan tahan terhadap suhu tinggi. Untuk memenuhi kebutuhan bisfenol-A, Indonesia masih mengimpor dari negara lain. Memepertimbangkan peluang ini, pabrik bisfenol-A berkapasitas 2500 ton/tahun dibangun di lahan seluas 10877 m2 di Bontang, Kalimantan Timur.
Proses pembuatan bisfenol-A dari aseton dan fenol melibatkan lima tahap utama yaitu, persiapan bahan baku, reaksi, pemisahan dan pemurnian produk, serta perancangan diagram alir. Pada tahap persiapan bahan baku, aseton dan fenol dengan kemurnian tinggi disiapkan dalam kondisi yang sesuai sebelum dicampur dalam mixer. Campuran kemudian dipompakan ke reaktor fixed bed, di mana reaksi eksotermis terjadi, menghasilkan bisfenol-A dengan konversi 80%. Produk campuran dari reaktor kemudian dipisahkan dalam flash drum dan separator untuk memurnikan aseton dan air. Setelah itu, campuran bisfenol-A dan fenol dikristalkan, diikuti dengan pemisahan menggunakan centrifuge. Produk bisfenol-A yang diperoleh disimpan dalam silo sebelum digunakan lebih lanjut.
Analisis terhadap kondisi operasi pabrik Bisfenol-A menunjukkan bahwa industri ini termasuk berisiko tinggi. Berdasarkan analisis ekonomi, hasil yang diperoleh adalah sebagai berikut: Return on Investment (ROI) sebelum pajak sebesar 44,72%, sesuai dengan standar minimum untuk industri berisiko tinggi. Pay Out Time (POT) sebelum pajak mencapai 2 tahun, sesuai dengan batas maksimum yang diterima. Break Even Point (BEP) sebesar 40%, dan Shut Down Point (SDP) sebesar 25,19%, keduanya berada dalam rentang umum untuk pendirian pabrik kimia. Discounted Cash Flow (DCF) sebesar 44,11%, lebih tinggi dari suku bunga pinjaman bank saat ini. Dengan demikian, pabrik Bisfenol-A berkapasitas 2500 ton/tahun layak untuk dipertimbangkan pendiriannya.