Abstract :
Kulit batang kayu jawa (Lannea coromandelica (Houtt.) Merr.) secara empiris digunakan sebagai pengobatan luka dalam maupun luka luar. Tanaman ini terbukti dapat digunakan sebagai antimikroba terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Adapun senyawa kimia yang terkandung dalam ekstrak kulit batang kayu jawa diantaranya yaitu flavonoid, fenol, dan alkaloid yang berperan sebagai agen antibakteri. Dalam memperoleh senyawa tersebut dapat menggunakan berbagai macam metode ekstraksi. Penelitian ini membandingkan metode maserasi dan refluks untuk melihat perbedaan pengaruh pemanasan dalam proses ekstraksi kulit batang kayu jawa sebagai antibakteri Staphylococcus aureus.
Jenis penelitian ini adalah eksperimental guna melihat pengaruh metode ekstraksi kulit batang kayu jawa terhadap karakteristik ekstrak dan aktivitas antibakteri. Ekstraksi menggunakan perlakuan yang sama pada perbandingan sampel dan pelarut (1:5), serta waktu esktraksi yang sama selama 3 jam. Ekstrak diperoleh dengan proses pemanasan diatas waterbath sampai kering. Pengujian dilakukan pada perhitungan rendemen, profil KLT, dan aktivitas antibakteri.
Hasil penelitian menunjukkan nilai rendemen pada ekstraksi dengan metode refluks (10,37%) lebih besar dibandingkan metode maserasi (7,79%). Akan tetapi metode maserasi dan refluks menghasilkan senyawa yang sama yaitu senyawa fenol dan flavonoid. Sedangkan pada uji antibakteri menunjukkan metode refluks yang memiliki zona hambat lebih besar (20,7 mm) dibandingkan zona hambat dengan metode maserasi (20,5 mm).