Abstract :
Individu isolasi sosial tidak mampu membangun hubungan kooperatif dan saling ketergantungan. Faktor membangun hubungan kooperatif adalah dukungan keluarga. Dukungan keluarga membuat klien merasa lebih percaya pada orang lain, diperhatikan, dihargai, dan dicintai. Salah satu bentuk dukungan keluarga klien isolasi sosial yang dirawat di rumah sakit adalah dengan melakukan kunjungan keluarga
Mengetahui adakah pengaruh frekuensi kunjungan keluarga terhadap penurunan jumlah tanda gejala pada pasien isolasi sosial
Jenis penelitian korelasi. Populasi semua pasien isolasi sosial yang dirawat di RSUD Banyumas Bulan Mei sampai Juli 2016 sebanyak 28 responden dengan total sampling. Analisis univariat frekuensi kunjungan keluarga dan penurunan jumlah tanda gejala pasien isolasi sosial. Analisis bivariat menggunakan korelasi rank spearman
Perolehan data frekuensi kunjungan keluarga 14 kali dengan 2 responden mendapatkan tanda gejala paling sedikit 0 sampai 7 dan kunjungan keluarga 3 kali dengan 1 responden mendapatkan tanda gejala lebih banyak 24 sampai 31. Hasil korelasi rank spearman menunjukkan nilai signifikansi (p-value) adalah 0,000 lebih kecil dari nilai ?(0,05). Dari hasil uji t diperoleh nilai thitung sebesar -6,095 lebih kecil dari nilai -ttabel untuk pengujian dua sisi (two tiled) -2,056
Ada pengaruh frekuensi kunjungan keluarga terhadap penurunan jumlah tanda gejala pasien isolasi sosial di RSUD Banyumas.