Abstract :
Latar Belakang : Fraktur merupakan suatu patahan pada kontinuitas struktur jaringan tulang atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh trauma, baik trauma langsung ataupun tidak langsung. Prevalensi kejadian fraktur di provinsi Jawa tengah menurut diagnosis dokter yaitu sebesar 6,2%. Pasien fraktur akan mengalami berbagai masalah, masalah yang sering dialami pasien fraktur yang pertama yaitu nyeri. Terdapat beberapa jenis terapi non farmakologis yang dapat di praktikkan untuk mengurangi nyeri, Salah satu contohnya dengan teknik non farmakologis yang dapat diterapkan yaitu pemberian terapi teknik relaksasi pernapasan dalam. Teknik pernapasan dalam bertujuan untuk mengendurkan kejang otot, relaksasi pernapasan dalam akan merangsang ekspresi hormon oksida nitrat, yang memicu paru-paru dan pusat otak, yang akan memiliki efek menenangkan untuk menurunkan intensitas nyeri .
Tujuan : untuk mengetahui gambaran asuhan keperawatan pada pasien fraktur dengan penerapan intervensi teknik relaksasi nafas dalam.
Hasil : Penerapan implementasi teknik relaksasi nafas dalam ini dilakukan di IGD RSUD Salatiga pada 9 Juni 2024 pada 1 pasien kelolaan yang mengalami fraktur. Skala intensitas nyeri sebelum perlakuan yaitu 6, dan intensitas nyeri setelah perlakuan yaitu 4. Artinya menunjukan bahwa ada penurunan intensitas nyeri setelah diberikan teknik relaksasi nafas dalam.
Simpulan : Berdasarkan hasil penelitian maka dapat ditarik kesimpulan bahwa ada penurunan intensitas nyeri sebelum perlakuan yaitu 6, dan intensitas nyeri setelah perlakuan yaitu 4.
Kata Kunci : Fraktur, teknik relaksasi nafas dalam, penurunan intensitas nyeri