Abstract :
PT. Jindal Stainless Indonesia (JSI) adalah perusahaan yang bertempat di
Gresik dan mengakusisi 100% pengolahan baja dari PT Maspion dan mulai
beroperasi pada tahun 2004 di Surabaya, Jawa Timur Indonesia, Di bagian
produksi PT. JSI sendiri mempunyai 4 departemen produksi yang diantaranya
adalah bagian Finishing. Finishing adalah proses tahap akhir atau penyempurnaan
produk / coil sesuai keinginan atau kebutuhan customer sebelum masuk ke tempat
packing dan gudang bahan baku setengah jadi. Mesin slitting adalah mesin utama
dibagian finishing , dimana mesin ini dirasa kurang produktiv, perbandingan
antara output dan input kurang atau tidak seimbang. Sehingga perlu melakukan
pengukuran produktivitas untuk tahap melakukan rencana usulan perbaikan .
Pengukuran produktivitas dilakukan dengan metode Objective Matrix
(Omax). Ditentukan lima kriteria dan rasio produktivitas pada perhitungan
Objective Matrix (Omax), yang memerlukan lima data dalam perhitungan rasio
tersebut. Kriteria atau indikator kinerja utama yang mempengaruhi indeks
produktivitas didefinisikan dengan jelas, dan harus dilakukan untuk masing -
masing kriteria pembobotan Dalam pembobotan kriteria. Metode yang digunakan
adalah Analytical Hierarchy Process (AHP) dan metode Fault Tree Analysis
(FTA) untuk menganalisis masalah serta memberikan usulan perbaikan.
Hasil dari penelitian antara lain adalah menbgetahui kriteria dan rasio
utama produktivitas, nilai rasio dari setiap kriteria, bobot, dan nilai index
produktivitas, didapatkan nilai indek produktivitas 0,1984 ( 19,84 % ) mengalami
kenaikan dari periode sebelumnya, Kriteria E adalah produktivitas jam kerja
mesin rusak dalam jam normal yang mana nilai nya mencapai 0,628 di bulan
oktober 2017 , yang artinya dengan jam kerja mesin normal 660 jam didapati
kerusakan mesin sebanyak 0,628 (62 %).
Usulan perbaikan diberikan berdasarkan akar permasalahan yang didapat
(minimal cut-set) melalui Fault Tree Analaysis : Meningkatkan tingkat
keperawatan mesin, pihak maintenance melakukan pengecekan rutin semua spare
part mesin agar segera dilaksanakan, Penyediaan alat ukur khusus untuk
kebutuhan setting gap sehingga tingkat ketelitian sesuai, Memberikan pelatihan
atau training secara rutin kepada semua operator mengenai bagaimana mengukur
tension dengan benar, Menentukan alternatif ? alternatif dalam penjadwalan
produksi, guna mengoptimalkan hasil produksi , misal kerja lembur , sub kontrak
dll.