DETAIL DOCUMENT
ADVERSITY PADA PEKERJA ANAK YANG BERSEKOLAH
Total View This Week0
Institusion
Universitas Muhammadiyah Gresik
Author
RAHMANIA, FELIA BELADINI
Subject
Philosophy 
Datestamp
2019-07-08 03:53:44 
Abstract :
Pekerja anak yang bersekolah merupakan anak yang berperan ganda. Seorang anak yang harus bersekolah dan bekerja pada usia yang masih membutuhkan orang lain untuk dapat membantu mengembangkan kemampuan fisik maupun psikisnya. Sebagian anak terpaksa memilih putus sekolah di tengah jalan, karena merasa sekolah dan bekerja adalah beban ganda yang sering kali dinilai terlalu berat. Namun, anak-anak yang mempunyai adversity yang tinggi merupakan anak yang akan mampu bertahan untuk bersekolah dan bekerja. Adversity adalah daya tahan seseorang saat menghadapi suatu tantangan, permasalahan, perubahan atau kondisi yang membuat merasa terpuruk. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adversity pada Pekerja Anak yang Bersekolah. Tipe penelitian ini kualitatif deskriptif. Subjek penelitian sebanyak 2 anak, yaitu usia 14 tahun dan 15 tahun. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu wawancara terstruktur dan wawancara tak terstruktur, observasi partisipasi pasif dan observasi tak terstruktur dan metode kuesioner. Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan latar belakang pekerja anak yang bersekolah yaitu adanya dorongan dari anak sendiri, hubungan antar anggota keluarga, kebutuhan untuk mengejar biaya sekolah, pendidikan yang tidak menarik bagi anak, proses dan persyaratan dalam rekrutment, sumber informasi mengenai pekerjaan, disuruh orang tua dan melatih mandiri. Dampak menjadi pekerja anak yang bersekolah yaitu dampak fisik berupa kelelahan fisik,dampak emosional berupa tidak bahagia dan rasa malu, dampak kognitif berupa penurunan kemampuan sekolah, dampak sosial berupa pengucilan sosial, dan dampak ekonomi berupa kurangnya waktu mengerjakan PR karena kegiatan ekonomis. Faktor pembentukan adversity pada pekerja anak yang bersekolah yaitu adanya dukungan dari lingkungan, kemampuan memotivasi diri dan spiritual quotient. Adversity dimensi control pada kedua subjek yaitu subjek mampu mengendalikan perisitiwa-peristiwa buruk. Adversity dimensi origin pada kedua subjek yaitu subjek menganggap penyebab peristiwa yang terjadi adalah orang lain atau faktor lain. Adversity dimensi ownership pada kedua subjek yaitu subjek menempatkan tanggung jawab subjek pada tempatnya yang tepat. Adversity dimensi reach pada kedua subjek yaitu subjek membiarkan kesulitan menjangkau wilayah lain kehidupan subjek. Adversity dimensi endurance pada kedua seubjek yaitu subjek memandang kesuksesan akan berlangsung lama, atau bahkan permanen. 
Institution Info

Universitas Muhammadiyah Gresik