Abstract :
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif yang
bertujuan untuk mendeskripsikan proses berfikir siswa dengan kemampuan
matematika tinggi, sedang dan rendah dalam menyelesaikan masalah matematika.
Subjek penelitian adalah siswa kelas VII D SMP Sunan Giri Menganti Gresik
tahun ajaran 2015/2016 yang berjumlah 39 siswa. Dari siswa tersebut akan dipilih
3 siswa secara random dan menggunakan teknik purpose sampling untuk
dilakukan wawancara yaitu: 1 siswa berkemampuan matematika tinggi, 1 siswa
berkemampuan matematika sedang, dan 1 siswa berkemampuan matematika
rendah. Wawancara dilakukan untuk memperkuat hasil tes tertulis siswa.
Instrumen pendukung dalam penelitian ini terdiri atas lembar tes kemampuan
matematika dan pemecahan masalah matematika serta pedoman wawancara
berbasis tugas. Jenis proses berfikir siswa yang digunakan dalam penelitian ini
yaitu konseptual, semi konseptual, dan komputasional. Dalam tahap pemecahan
masalahnya dalam penelitian ini menggunakan tahap Polya.
Berdasarkan analisis data jawaban tertulis dan hasil wawancara,
diperoleh hasil-hasil penelitian deskripsi proses berfikir siswa sebagai berikut: 1.
Proses berpikir siswa berkemampuan matematika tinggi dalam menyelesaikan
masalah matematika yaitu mampu menyatakan apa yang diketahui dan apa yang
ditanya dalam soal dengan bahasa sendiri atau mengubah dalam kalimat
matematika, mampu membuat rencana penyelesaian dengan lengkap, mampu
menyatakan langkah-langkah yang ditempuh dalam menyelesaikan soal
menggunakan konsep yang pernah dipelajari, dan mampu memperbaiki jawaban.
2. Proses berpikir siswa berkemampuan matematika sedang dalam menyelesaikan
masalah matematika yaitu menyatakan apa yang diketahui dan apa yang ditanya
dalam soal dengan bahasa sendiri atau mengubah dalam kalimat matematika
kurang lengkap, membuat rencana penyelesaian tetapi tidak lengkap, kurang
mampu menyatakan langkah-langkah yang ditempuh dalam menyelesaikan soal
menggunakan konsep yang pernah dipelajari, dan kurang mampu memperbaiki
kekeliruan jawaban. 3. Sedangkan proses berpikir siswa berkemampuan
matematika rendah dalam menyelesaikan masalah matematika yaitu tidak mampu
menyatakan apa yang diketahui dan apa yang ditanya dalam soal dengan bahasa
sendiri atau mengubah dalam kalimat matematika, tidak membuat rencana
penyelesaian, tidak mampu menyatakan langkah-langkah yang ditempuh dalam
menyelesaikan soal menggunakan konsep yang pernah dipelajari, dan tidak
mampu memperbaiki kekeliruan jawaban. Berdasarkan hal tersebut, maka dapat
disimpulkan bahwa jenis proses berpikir siswa berkemampuan matematika tinggi
adalah konseptual, jenis proses berpikir siswa berkemampuan matematika sedang
adalah semi konseptual, sedangkan jenis proses berpikir siswa berkemampuan
matematika rendah adalah komputasional.