Abstract :
Keluarga merupakan peranan yang sangat penting dalam upaya
mengembangkan pribadi anak. Peranan orang tua yang penuh kasih sayang,
perhatian dan pendidikan serta nilai-nilai kehidupan, baik agama maupun sosial
budaya yang diberikanya merupakan faktor yang kondusif untuk
mempersiapkan anak agar menjadi pribadi dan anggota msyarakat yang sehat.
Sayangnya pada era zaman seperti sekarang ini yang semakin merambah
orang tua yang meninggalkan anak-anaknya demi bekerja di luar negeri atau
sebagai TKI. Fenomena seperti ini biasanya terjadi karena semakin sulit mencari
pekerjaan di dalam negeri dan banyaknya kebutuhan-kebutuhan yang harus
dipenuhi. dalam setiap pekerjaan terutama bagi seseorang yang sudah berkeluarga,
mereka harus merelakan keluarganya untuk ditinggal terutama pada anak. Pola
asuh yang di berikan keluarga yang bekerja sebagai TKI tentunya akan menjadi
beban tersendiri bagi anak yang di tinggalkan. Pola asuh sangatlah penting bagi
anak, karena pola asuh adalah cara orang tua membesarkan anak dengan
memenuhi kebutuhan anak, memberi perlindungan, mendidik anak serta
mempengaruhi tingkah laku anak dalam kehidupan sehari-hari. Adapun tujuan
orang tua mengasuh anaknya adalah untuk membentuk kepribadian dan emosional
yang matang, sikap atau perilaku yang pantas dan tidak pantas, atau baik dan
buruk.
Tujuan daripenelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pola
asuh permisif yang ayahnya bekerja sebagai TKI dengan kematangan emosi
remaja. subjek penelitian ini adalah siswa/siswi kelas X,XI,XII SMA
Muhammadiyah 7 Panceng sebanyak 61 siswa dengan menggunakan teknik
sampling purposive sampling, sedangkan metode pengumpulan data dalam bentuk
skala likert. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan
menggunakan taraf kesalahan 5% dan metode analisis yang digunakan dalam
analisis korelasi product moment.
Berdasarkan hasil analisis data diperoleh nilai r hitung = -0,542 lebih besar
daripada r tabel yaitu sebesar 0,252. Dengan demikian r hitung = -0,542, p =
0,000, taraf signifikan p < 0,05, maka Ho ditolak dan Ha diterima. Sehingga
hipotesis yang diajukan diterima, ada hubungan yang negatif antara pola asuh
permisif yang ayahnya bekerja sebagai TKI dengan kematangan emosi remaja.
Koefisien korelasi menunjukan bahwa ketika remaja di asuh menggunakan pola
asuhan permisif tinggi maka remaja itu cenderung memiliki kematangan emosi
yang rendah. Sebaliknya jika remaja mendapatkan pola asuh permisif rendah
maka kematangan emosi remaja cenderung tinggi.