Abstract :
Petrokimia Gresik adalah produsen pupuk dan non pupuk terbesar dan terlengkap di
Indonesia. Demi mewujudkan ketahanan pangan nasional, PT. Petrokimia Gresik
bersama dengan anak perusahaan yang berada di dalam lingkup PT. Pupuk Indonesia
(PIHC) dituntut dapat menjamin ketersediaan pupuk bersubsidi yang dapat disalurkan
secara merata di seluruh Indonesia sesuai dengan permintaan dan alokasi yang jelas.
Akan tetapi masih terdapat problem yang terjadi pada saat ini, yakni sering terjadinya
breakdown pada salah satu mesin produksi pupuk urea, Prilling urea yang berada di
Pabrik IA di Unit Produksi IA, dari hal ini juga dapat menyebabkan efektifitas mesin
menjadi berkurang dan tidak bisa memenuhi target perusahaan secara optimal.
Untuk mengatasi permasalahan yang terjadi dalam lini produksi ini, maka akan
dilakukan pengukuran dengan menggunakan metode Overall Equipment Effectiveness
(OEE), yang memiliki tiga faktor untuk melakukan analisis mengenai efektifitas
mesin / perlatan seperti: Availability, Performance Efficiency, dan Rate of Quality
Product, kemudian langkah selanjutnya akan dilakukan perhitungan six big losses,
kemudian dilakukan analisis menggunakan FMEA.
Dengan rata-rata nilai OEE di bulan September 2018 - April 2019 pada mesin Prilling
urea 92,38 %. Perlehan nilai OEE pada mesin prilling dikategorikan telah memenuhi
standar dari OEE kelas dunia yakni dengn rata rata sebesar 85 %, namun untuk
Standar OEE KPI Perusahaan masih belum memenuhi target, 98% untuk target
kesiapan / Ketersediaan mesin dan sebesar 98 % untuk kualitas produk, kemudian
hasil analisis six big losses menunjukkan bahwa faktor terbesar yang menyebabkan
Tertinggi dan terrendah pencapaian nilai OEE pada mesin Prilling adalah breakdown
loss sebesar 20.645 menit, diikuti dengan Idle and minor loss 10.853 menit, dan Setup
adjustment loss 1.590 menit dan dari total keseluruhan losses yang ada, kemudian
pada tonase paling banyak berada di Reduce speed loss dengan 262.052 Ton diikuti
dengan rework loss 74.677 ton.
Kemudian Menurut analisis awal dari FMEA, ada beberapa faktor yang
mempengaruhi breakdown loss dan reduced speed loss. Faktor penyebab breakdown
loss dan reduced speed loss dikarenakan beberapa faktor yakni Kandungan biuret
yang dapat membahayakan tanaman, bearing sering rusak, scaling keras, Equipment
produksi Trip tanpa indikasi, Kandungan steam masih terlalu tinggi, Ada beberapa
overzise mess yang masih lolos, Temperature kurang stabil.