Abstract :
Perkembangan industri semakin pesat dari tahun ke tahun, perkembangan ini
berasal dari banyaknya barang atau hasil produk yang semakin diminati dipasaran
sehingga perusahaan harus semakin meningkatkan hasil produksi baik dari segi
mutu, jenis, dan kualitas. Salah satu industri yang diminati manfaatnya adalah
produk Stainless. Hal ini disebabkan material Stainless memiliki sifat ketahanan
terhadap korosif. PT. Jindal Stainless Indonesia merupakan industri manufaktur
yang dalam proses produksinya masih mengalami kecacatan lebih dari batas
toleransi yang sudah ditetapkan oleh perusahaan sebesar 10% dari total produksi.
Dalam proses produksi dalam 5 bulan terahir yaitu bulan Agustus 12,25%,
September 3,66%, Oktober 19,51%, November 13,83%, Desember 11,90%.
Dalam penelitian ini menggunakan metode Fault Tree Analysis (FTA) untuk
mengidentifikasi kecacatan produk berdasarkan proses produksi saat ini.
Selanjutnya metode Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) untuk
mengidentifikasi kegagalan, efek kegagalan, penyebab kegagalan, mode, deteksi
dan menentukan ranting Severity (S), Occurance (O), Detection (D) pada Risk
Priority Number (RPN).Berdasarkan hasil dari penilaian Risk Priority Number
(RPN) didapatkan kegagalan Scracht yang menjadi prioritas pertama dengan nilai
RPN 378, kedua Dark butek dengan nilai RPN 336, ketiga Over Heat dengan nilai
RPN 294, keempat Gloss turun dengan nilai RPN 252, kelima Yellowise dengan
nilai RPN 216. Usulan perbaikan untuk mengatasi kecacatan antara lain membuat
atau menetapkan SOP pemakaian mesin saat proses produksi, melakukan uji
kualitas material Stainless yang akan diproduksi, melakukan pembersihan area
mesin dan