Abstract :
Proses kehamilan, persalinan, bayi baru lahir, nifas dan Keluarga Berencana
(KB) merupakan suatu keadaan yang fisiologis atau alamiah, namun dalam
prosesnya dapat berkembang menjadi masalah atau komplikasi setiap saat yang
dapat membahayakan ibu dan bayi, terutama pada ibu yang tidak mendapatkan
asuhan dari tenaga kesehatan. Tujuan dilakukannya asuhan Continuity Of Care
adalah untuk mendeteksi secara dini adanya kelainan dan komplikasi agar dapat
ditangani sehingga dapat menekan angka mortalitas dan morbiditas.
Metode asuhan yang dilakukan yaitu dengan study kasus dan asuhan kebidanan
yang dilakukan pada Ny.?S? umur 31 tahun GII P10001 di PMB Rowani, Amd.Keb
Sidojangkung Menganti Gresik, mulai Maret sampai dengan Juni 2020 secara
Continuity Of Care dengan menggunakan pendekatan manajemen asuhan
kebidanan mulai dari masa hamil sampai dengan pelayanan keluarga berencana.
Kunjungan K1 akses Pada trimester II karena ibu sebelumya memakai KB pil
jadi ibu baru mengetahui kalau hamil dengan (UK 16 minggu) dilakukan
pemeriksaan ANC Terpadu di puskesmas dan pemeriksaan penunjang yaitu Lab
HbsAg (-), HIV: (-) NR, Goldar: A+, Protein Urine(-), Reduksi: (-), Kadar Hb: 12,5
gr%. dari hasil rekam medik tidak terdapat masalah. DO : TTV (dalam batas
normal), terjadi kenaikan BB 1 kg dari sebelum hamil, Skor Poedji Rochjati : 2.
Asuhan yang diberikan adalah KIE pentingnya gizi seimbang untuk ibu hamil.
untuk kesempurnaan pertumbuhan janin, baik bagian organ luar maupun organ
bagian dalam dan kesehatan ibu, menganjurkan ibu melakukan pemeriksaan, P4K
penempelan stiker, istirahat, tanda bahaya kehamilan trimester II, menganjurkan
ibu membaca buku KIA, pemberian terapi vitamin yaitu vitonal-F, Gestiamin dan
kalk. Pada trimester III dilakukan kunjungan 2x (UK 36 minggu) telah dilakukan
continuity of care dan tidak ada masalah DO : TTV (dalam batas normal), TFU 31
cm, letak kepala ? . Pada kehamilan 36 minggu tidak ada masalah, TTV dalam batas
normal, TFU 3 jari bawah-px (31 cm). Asuhan yang diberikan yaitu KIE tentang
nutrisi, aktivitas, istirahat, tanda bahaya trimester III, tanda persalinan, persiapan
persalinan, pemberian vitamin bundavin dan kunjungan ulang. Pada kehamilan 39
minggu TTV dalam batas normal, TFU pertengahan pusat-px (33 cm). Asuhan yang
diberikan yaitu KIE nutrisi, aktivitas, istirahat cukup, tanda persalinan, pemberian
vitamin Alinamin-F dan kunjungan ulang.
Asuhan persalinan tanggal 09 April 2020 kenceng-kenceng dan nyeri hilang
timbul sejak jam 10:00 WIB dan sudah keluar lendir campur darah pervaginam
pada jam 18:30 Ø 5 cm, TTV (dalam batas normal) letkep U TFU 33 cm
(pertengahan pusat Px), inpartu kala 1 fase aktif. Proses persalinan, ibu bersalin
secara normal dengan memberikan asuhan 5 benang merah, pada tanggal 09 April
2020 jam 09.15 WIB bayi lahir Spt-B, jenis kelamin perempuan, langsung
menangis A-S 8-9, berat 3500 gram, panjang 52 cm, kala II berlangsung selama 1
jam, Kala III berlangsung selama 15-30 menit, plasenta lahir spontan lengkap dan
segera dilakukan masase fundus uteri. Kala IV selama 2 jam post partum, kontraksi
uterus keras, kandung kemih kosong, dilakukan penjahitan derajat 2 menggunakan
benang catgut plan secara jelujur dan perdarahan ± 150 cc.
Masa nifas berjalan dengan fisiologis, ASI lancar dan mengajarkan ibu
menyusui dengan benar. Telah dilakukan informed choice pada kunjungan nifas ke
empat, ibu telah diberikan KIE untuk ber-KB dan telah diberikan konseling KB,
keuntungan dan keterbatasan KB, meyakinkan kembali tentang KB yang digunakan
dan ibu memutuskan untuk menggunakan KB suntik 3 bulan dengan alasan agar
tidak mengganggu proses menyusui. Ibu melakukan informed consent dan
mendapatkan injeksi Triclofem 3 bulan tanggal 21 Juni 2020 suntik ulang tanggal
14 september 2020.
Berdasarkan hasil asuhan kebidanan Continuity Of Care yang telah dilakukan
diharapkan ibu dan bayi sehat, tidak terjadi penyulit maupun komplikasi. Bidan
harus dapat mengupdate ilmu kesehatan yang terbaru dan meningkatkan kualitas
pelayanan, hardskill maupun soft skill, penerapan ANC terpadu, kelas ibu hamil dan
deteksi dini risiko tinggi, bekerjasama dengan kader dan peran serta lintas program
dan lintas sektoral dan memberikan asuhan yang sesuai dengan standar kompetensi.