Abstract :
Kehamilan merupakan keadaan alamiah dan normal namun dapat menjadi abnormal,maka
dari itu selama hamil harus dilakukan deteksi dini adanya komplikasi yang bisa saja terjadi dan
memastikan kesehatan ibu dan janin dengan memeriksakan diri secara continuity of care mulai
dari masa hamil sampai masa nifas dan KB. Tujuan continuity of care adalah untuk mendeteksi
secara dini adanya kelainan dan komplikasi agar dapat ditangani sehingga dapat menekan
angka mortalitas dan morbiditas.
Pada Laporan Tugas Akhir ini dilakukan dengan metode study kasus pada ?Ny.E? umur 23
tahun G2 P00011 masa hamil sampai masa nifas dan KB di PMB Nur Masillah, S.ST. Waktu
yang diperlukan dalam pemberian asuhan yaitu 5 bulan mulai bulan Maret sampai Juli 2020.
Asuhan kehamilan pada ?Ny.E?umur 23 tahun G2 P00011 pada usia kehamilan 8 minggu
KU baik, TTV dalam batas normal, TFU masih belum teraba, nilai KSPR trimester I yaitu 6,
asuhan yang diberikan yaitu memberikan KIE tanda bahaya kehamilan trimester I, cek Lab di
Puskesmas, penanganan keluhan mual,kebutuhan nutrisi.Usia kehamilan 23-24 minggu ibu
tidak ada keluhan, TTV dalam batas normal, TFU setinggi pusat (18 cm), nilai KSPR trimester
II yaitu 6, asuhan yang diberikan yaitu nutrisi. Pada usia kehamilan 36-37 minggu ibu tidak
ada keluhan, TTV dalam batas normal, TFU 3 jari di bawah px (28 cm), nilai KSPR trimester
III yaitu 6, asuhan yang diberikan yaitu tanda bahaya kehamilan trimester III, cara perawatan
payudara. Pada usia kehamilan 38-39 minggu ibu tidak ada keluhan, TTV dalam batas normal,
TFU pertengahan pusat-px (29 cm), TBJ 2.790 gram, nilai KSPR trimester III yaitu 6, asuhan
yang diberikan yaitu KIE tentang tanda persalinan.
Asuhan persalinan berjalan normal fase aktif, kala 1 berlangsung selama 8 jam, kala II 30
menit, kala III 10 menit,tidak ada laserasi, dan pada kala IV dilakukan observasi selama 2 jam,
terdapat perdarahan ibu 200 cc. Bayi lahir spontan pukul 15.55 WIB, menangis kuat, jenis
kelamin perempuan, berat lahir 2800 gram, panjang badan 48 cm, A-S 8-9, terdapat lubang
anus, dan tidak ada kelainan konginetal. Asuhan yang diberikan yaitu segera setelah lahir
dilakukan IMD, bayi mendapatkan salep mata tetracyclin, injeksi vit K1 0,5 di paha kiri. HB0
0,5 di paha kanan diberikan saat bayi berusia 2 jam setelah lahir.
Pada kunjungan nifas dilakukan sebanyak 4 kali, pada kunjungan pertama yaitu 6 jam
postpartum asuhan dilakukan di PMB Nur Masillah, S.ST, ibu sudah mendapat Vit.A 200.000
IU pertama. Pada kunjungan kedua ibu tidak mengalami keluhan, TTV dalam batas
normal,TFU 2 jari dibawah pusat,lochea sanguelenta. Asuhan yang diberikan KIE
istirahat,mobilisasi,senam nifas. Pada kunjungan ketiga dan keempat ibu tidak mengalami
keluhan, TTV dalam batas normal,TFU sudah tidak teraba, lochea alba. Asuhan yang diberikan
yaitu KIE tanda bahaya masa nifas, istirahat dan ASI eksklusif.
Kunjungan neonatus dilakukan 3 kali. Pada kunjungan pertama yaitu 24 jam KU baik, bayi
sudah BAB/BAK, TTV dalam batas normal, tali pusat basah. Pada usia 5 hari bayi tidak ada
kelainan, BAB 2x, BAK 5x, turgor kulit normal. Asuhan yang diberikan yaitu menganjurkan
ibu untuk memberikan ASI dengan frekuensi lebih banyak dari sebelumnya. Pada kunjungan
berikutnya bayi juga tidak ada kelainan karena ibu tetap menyusui bayinya secara eksklusif.
Pada usia 30 hari bayi mendapatkan imunisasi BCG dan polio 1. Asuhan keluarga berencana
dilakukan setelah nifas 6 minggu, TTV dalam batas normal, ibu diberikan informed choice dan
informed consent, ibu memilih KB suntik 3 bulan, dan mendapatkan suntikan Tryclofem jenis
Depo Medroksi Progesteron Asetat (DMPA) mengandung 150 mg tanggal 2 juni 2020 suntik
ulang tanggal 22 agustus 2020 .
Berdasarkan data di atas tidak ditemukan kesenjangan mulai dari asuhan kehamilan hingga
KB dan asuhan yang dilakukan sudah sesuai dengan manajemen asuhan kebidanan. Bagi bidan
di PMB dapat mempertahankan dan meningkatkan kualitas pelayanan, dan selalu memperbarui
ilmu kesehatan yang terbaru, terus mengasah soft skill dan hard skill-nya untuk memberikan
asuhan yang sesuai standart dan berkesinambungan. Bagi institusi pendidikan diharapkan dapat
memperbaiki praktik pembelajaran menjadi lebih efektif dan efisien.