Abstract :
Permasalahan kekosongan obat BPJS menjadi salah satu penghambat
pelayanan resep Pasien Rujuk Balik (PRB) di Apotek Kimia Farma Usman Sadar.
Tingkat kepuasan pasien juga menjadi lebih rendah karena pasien tidak mendapatkan
obat dan harus menunggu sampai obat datang dari PBF. Penelitian ini menggunakan
data sekunder dari data persediaan dan pengeluaran obat BPJS bulan April-Juni 2020.
Pada penelitian ini obat BPJS akan dikelompokkan menggunakan analisa ABC,
kemudian dihitung jumlah pemesanan optimum, safety stock serta kapan waktu obat
itu dipesan kembali. Prioritas rencana pengadaan obat BPJS berada dikelompok A,
karena memberikan pendapatan tertinggi di apotek. Hasil perhitungan analisis ABC
menunjukkan bahwa kelompok A terdapat 14 item obat atau 26,41% dari seluruh
obat BPJS, menyerap 79,22% investasi. Kelompok B sebanyak 11 item obat atau
20,27% obat dari seluruh obat BPJS, menyerap 15,54% dari investasi. Sedangkan
kelompok C sebanyak 28 item obat atau 52,83%, menyerap 5.23% investasi. Dari
perhitungan EOQ jumlah pemesanan optimum tiap item obat untuk kelompok A
bervariasi mulai dari 2-590 item obat. Untuk menentukan waktu pemesanan maka
dapat dilakukan perhitungan Reorder Point (ROP), dari data perhitungan ROP hasil
tersebut bervariasi mulai dari 1-324 item obat yang merupakan jumlah yang ideal
untuk dilakukannya pemesanan agar terhindar dari stock out karena permintaan yang
meningkat.