Abstract :
Terdapat beragam jenis media hiburan audio visual yang terdapat di tengah masyarakat, ditambah dengan dukungan tekhnologi yang semakin maju, diantara pilihan jenis media tersebut terdapat musik, film live action maupun film animasi yang populer dikalangan anak-anak. Banyak film animasi yang beredar di Indonesia berasal dari luar negeri. Padahal Indonesia sendiri sejatinya telah memiliki kebudayaan animasi tradisional sejak jaman dahulu kala yang berwujud kesenian wayang kulit. Film Animasi memiliki banyak keunggulan apabila dibandingkan dengan film live shoot biasa. Begitu pula film animasi Si Ikin episode 4 “Kere Tapi MboisÂâ€. Dimana film ini menggunakan bahasa daerah dan menggunakan ikon-ikon tokoh yang berupa personifikasi dari ikan Sura dan Buaya. Film yang banyak menggunakan kata pisuhan dalam dialognya ini menuai banyak pro dan kontra. Dicurigai banyak makna lain yang tersimpan dalam setiap simbol dalam film animasi ini dimana makna itu hendak disampaikan pada masyarakat. Berangkat dari kecurigaan tersebut maka akan dicari makna simbol apa yang hendak disampaikan “Si Ikin†Suro dan Boyo.
Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif-interpretatif. Metode dan pendekatan ini digunakan untuk melihat dan menginterpretasikan simbol-simbol Surabaya melalui film Animasi Si Ikin episode 4 “Kere Tapi Mbois.
Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode semiotik model Barthes, dengan objek penelitian adalah film animasi Si Ikin episode 4 “Kere Tapi Mbois.Peneliti akan menganalisis beberapa unit analisis meliputi bahasa penampilan (ekspresi dan akting), bahasa komposisi (unsure visual) dan audio yang terfokus pada dialog para tokoh film tersebut. Berbagai unit analisis ini kemudian akan diinterpretasikan ke dalam dua tingkatan makna yaitu denotasi dan konotasi. Dengan interpretasi makna dua tahap ini peneliti dapat mengetahui dan mendeskripsikan simbol-simbol seperti apa yang ingin ditunjukkan oleh film animasi tersebut.
Berdasarkan hasil analisis dari unit-unit analisis yang ada dalam film animasi tersebut, peneliti akhirnya memperoleh kesimpulan. Kesimpulan tersebut adalah tersebut menggambarkan karakter masyarakat Surabaya yang modern dan masyarakat yang kritis terhadap sosial dan politik yang terjadi di Indonesia. Dan pembuat film ini berharap dapat merubah image yang telah sejak dulu melekat pada masyarakat Surabaya. Image yang baru mengharapkan film ini mampu merubah pola pikir masyarakat lain terhadap masyarakat Surabaya yang terkenal kasar. Peneliti juga menemukan kesan lain pada unit-unit analisis dalam film pendek ini. Kesan yang dimaksud adalah menawarkan hidup dalam sebuah masyarakat egaliter dan sistem yang sangat terbuka. Masyarakat yang sama hak dan sama derajat yang dilihat dengan penggunaan bahasanya dalam percakapannya. Peneliti kemudian meyakini adanya pluralitas masyarakat Surabaya yang dimiliki dan menjadikannya sebagai keragaman dalam sebuah wujud kesatuan yang utuh untuk menggambarkan masyarakat Surabaya.