Abstract :
Internet telah menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia, memungkinkan
akses informasi dan komunikasi dari mana saja. Perkembangan ini juga
membuka peluang bisnis melalui media sosial, melahirkan tren social commerce
(S-commerce), yang memungkinkan transaksi jual beli langsung secara online.
Namun, tren ini memberikan tantangan bagi pasar tradisional, terutama setelah
pandemi Covid-19, yang mempercepat perkembangan pasar online seperti
TikTok Shop. Kehadiran TikTok Shop mengubah cara konsumen berbelanja,
terutama dengan konten menarik yang mendorong pembelian impulsif. Hal ini
menyebabkan penurunan jumlah pelanggan dan penjualan di pasar tradisional,
menciptakan persaingan baru dalam ekonomi lokal. Penelitian ini menggunakan
metode kuantitatif dengan teknik accidental sampling, melibatkan 96 pembeli di
Pasar Tradisional Cendrawasih Kota Metro sebagai sampel. Data dikumpulkan
melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan uji validitas, reliabilitas,
normalitas, linearitas, analisis regresi sederhana, uji t, uji R², dan uji hipotesis
statistik menggunakan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penjualan
melalui social commerce TikTok Shop memiliki pengaruh signifikan terhadap
perubahan pola belanja konsumen di Pasar Tradisional Cendrawasih, terutama
di kalangan milenial. Berdasarkan analisis data, social commerce berpengaruh
sebesar 55,6% terhadap variasi keputusan pembelian, sementara 44,4%
dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak termasuk dalam model penelitian ini.
Namun, sebagian generasi yang lebih tua masih menunjukkan preferensi kuat
untuk berbelanja di pasar tradisional.