Abstract :
Kekerasan simbolik merupakan kekerasan yang tidak disadari sebagai
sebuah kekerasan oleh pelaku atau korbannya dan biasanya dilakukan secara lisan.
Kekerasan semacam ini sering terjadi di berbagai lapisan sosial, terutama di
lingkungan sekolah. Di SMA Negeri 2 Tulang Bawang Udik kekerasan simbolik
yang sering terjadi yaitu berupa diskriminasi fisik dan bahasa, sebagai guru
Pendidikan Agama Islam memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk
karakter siswa yang berbudi pekerti luhur dan memiliki nilai-nilai toleransi,
kerukunan, dan saling menghargai untuk mencegah terjadinya kekerasan simbolik
antar siswa. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana
strategi guru Pendidikan Agama Islam dalam mencegah kekerasan simbolik antar
siswa, hasil dari penerapan strategi tersebut serta apa saja faktor pendukung dan
penghambatnya.
Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan data
yang dikumpulkan melalui observasi, dokumentasi, wawancara dengan guru
Pendidikan Agama Islam Kelas X, XI, XII dan penyebaran angket kepada 71
siswa SMA Negeri 2 Tulang Bawang Udik kelas X dan XI.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa guru Pendidikan Agama
Islam dalam mencegah kekerasan simbolik antar siswa di SMA Negeri 2 Tulang
Bawang Udik menggunakan berbagai strategi untuk mencegah kekerasan
simbolik. Pertama pembelajaran kolaboratif diterapkan melalui kesepakatan
bersama yang bertujuan menjaga hubungan yang baik dan kenyamanan di dalam
kelas, penanaman nilai-nilai saling menghargai dan kerja sama, media
pembelajaran menarik yang membangun kebersamaan, dan diskusi kelompok.
Kedua pengajaran empati dan toleransi dilakukan dengan contoh nyata, cerita
inspiratif, refleksi diri, serta penerapan materi agama seperti adab dan menghargai
terhadap sesama. Ketiga pengajaran keterampilan sosial, dengan guru melatih
komunikasi yang sopan, mengembangkan empati lewat pengalaman langsung, dan
memfasilitasi diskusi untuk keterbukaan komunikasi siswa. Hasil penerapan
strategi guru Pendidikan Agama Islam dalam mencegah kekerasan simbolik antar
siswa termasuk pada kategori ?Baik? dengan presentase 78,1%. Faktor pendukung
strategi ini yaitu adanya kesepakatan antara guru dan siswa, adanya kesadaran
dan keterbukaan komunikasi siswa, dan adanya dukungan antar guru. Faktor
penghambatnya adalah siswa yang sulit menerima nasehat, pengaruh lingkungan,
dan dampak negatif media sosial.