Abstract :
Anak berkebutuhan khusus (ABK) atau disebut juga anak istimewa yaitu
anak yang mengalami keterlambatan lebih dari dua aspek gangguan
perkembangan atau anak mengalami penyimpangan dan memiliki keunikan
tersendiri dalam jenis dan karakteristik prilakunya yang berbeda dengan anak
normal pada umumnya menyebabkan anak berkebutuhan khusus (ABK) sulit
untuk belajar khususnya dalam hal keislaman.Tujuan penelitian ini adalah untuk
mendeskripsikan interalisasi nilai nilai keisalaman pada anak berkebutuhan
khusus (ABK) yang dilakukan oleh orang tua anak berkebutuhan khusus (ABK)
dalam pembinaan agama pada anak,untuk menganalisis faktor faktor yang
mempengaruhi pola asuh orang tua pada anak berkebutuhan khusus (ABK)
dalam pembinaan agama pada anak dan untuk mengetahui metode orang tua
pada anak berkebutuhan khusus (ABK) dalam pembinaan agama pada anak.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode
kualitatif deskriptif.Teknik pengumpulan data yang digunaka dalam penelitian
ini agar mendapatkan data yang relevan menggunakan teknik
wawancara,observasi,dan dokumentasi.Setelah data terkumpul selanjutnya
peneliti menggunakan analisis data Miles dan Huberman yaitu reduksi
data,penyajian data,dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Internalisasi Nilai Nilai
Keislaman Pada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) Di Desa Tatakarya Kecamatan
Abung Surakarta Kabupaten Lampung Utara yaitu menerapkan pola asuh seperti
mengajarinya baca tulis iqro dengan setiap hari dilakukan dirumah,orang tua
menerapkan dengan metode berbahasa isyarat untuk berbicara dengan anak
berkebutuhan khusus (ABK) agar lebih paham dengan apa yang diperintahkan
oleh orang tua dan orang tua yang berupaya kepada anaknya seperti dengan
memasukkan anak mereka dengan disekolah keagamaan seperti madrasah dan
lembaga taman pendidikan Al-Qur?an agar anak terbiasa bergabung dengan anak
normal lainnya. Faktor pendukung dalam internalisasi nilai nilai keislaman pada anak
berkebutuhan khusus (ABK) yaitu orang tua yang sabar dan gigih bahwa anaknya bisa
melakukan hal hal yang mereka perintahkan dan faktor penghambatnya yaitu anak yang
tidak berkemampuan mental emosi fisik yang menjadi hambatan orang tua seperti
kondisi anak yang mengalami kerusakan dan kendala biaya pengobatan dan lain lain.