Abstract :
Kebijakan merdeka belajar merupakan sebuah ide dalam rangka
memperbaiki sitem pendidikan yang ada di Indonesia dan diharapkan dapat
membangun suasana yang dinamis serta menyenangkan dengan melakukan
inovasi pembelajaran yang ideal serta sesuai dengan perkembangan zaman.
Merdeka belajar juga merupakan salah satu program yang diusung untuk
menciptakan suasana belajar yang bahagia baik bagi murid maupun guru agar
dapat merdeka dalam berpikir, sehingga dapat diimplementasikan dalam
menyampaikan materi kepada siswa. Penerapan kurikulum merdeka telah
dilaksanakan pada tahun ajaran 2022/2023 di MAN 1 Lampung Tengah dan baru
diterapkan di kelas X serta kelas XI, sedangkan kelas XII masih menggunakan
kurikulum 2013.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
pendekatan kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu
teknik wawancara dengan mewawancarai waka kurikulum, guru pelajaran akidah
akhlak, serta siswa kelas X dan XI. Teknik observasi dilakukan dengan
mengamati pelaksanaan pembelajaran akidah akhlak di MAN 1 Lampung Tengah.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi kurikulum
merdeka belajar pada pembelajaran akidah akhlak telah berjalan sesuai dengan
ketetapan yang ditentukan oleh madrasah. Pembelajaran difokuskan pada kegiatan
berbasis proyek dan menggunakan IT (information and technology). Peserta didik
diberi kebebasan dalam mengakses pembelajaran yang mereka minati sesuai
arahan yang diberikan guru. Faktor pendukung dalam implementasi kurikulum
merdeka belajar adalah fasilitas serta sarana dan prasarana yang diberikan sekolah
sebagai penunjang terlaksananya kurikulum merdeka belajar seperti, pelatihan
yang diberikan kepada guru-guru melalui webinar, anak diberi kebebasan
membawa hp android, serta sekolah memberikan fasilitas wifi serta proyektor
sebagai penunjang pembelajaran. Faktor penghambatnya adalah kurangnya
motivasi anak dalam belajar jika pembelajaran kurang sesuai dengan minatnya,
sinyal internet yang kurang stabil sehingga menghambat pembelajaran
menggunakan IT, serta persediaan media cetak seperti LKS yang masih terbatas.