Abstract :
Aspal merupakan bahan konstruksi utama dalam pembangunan jalan dengan tipe
perkerasan lentur. Fenomena yang sering terjadi pada kontruksi jalan adalah
pengelupasan lapisan antara agregat dan aspal yang biasa di kenal dengan
sebutan stripping. Stripping merupakan salah satu kerusakan jalan yang sering
terjadi pada perkerasan lapis aus (AC-WC) karena lapisan aus yang letaknya
paling atas, sehingga lapisan tersebut langsung bersentuhan dengan roda
kendaraan umum, panas matahari, dan air hujan. Untuk meningkatkan kualitas
aspal yaitu dengan cara memodifikasi aspalnya, atau dengan menambahkan zat
kimia daya ikat antara agregat dan aspal yaitu dengan cara menggunakan zat
(additive) berupa anti pengelupasan (anti stripping agent). Menurut ASTM (1989)
bahan pengisi (filler) harus terdiri dari material yang dapat dibagi secara halus
seperti abu batu, terak, kapur, semen, abu terbang atau material mineral yang
sesuai. Pada penelitian ini menggunakan serbuk PVC sebagai bahan tambah
(filler) dalam campuran aspal PVC merupakan polimer termoplastik kedua yang
paling banyak digunakan di seluruh dunia, setelah polietilen dan polipropilena.
Penelitian ini menggunakan zat additive anti stripping agent 0%, 0,1%, 0,2%,
0,3%, 0,4% dan serbuk PVC 0%, 1%, 2%, 2,5%, 3% serta variasi aspal penetrasi
shell 60/70 5%, 5,5%, 6%, 6,5%, 7%. Hasil penelitian pada additive anti stripping
agent 0,2% dan serbuk PVC 2% didapat KAO 5,90% serta stabilitas sisa sebesar
90,91%. Menurut Spesifikasi Umum Bina Marga Tahun 2018 Revisi 2, batas
minimal nilai stabilitas sisa yaitu 90% yang artinya pada campuran variasi additive
anti stripping agent 0,2% dan serbuk PVC 2% sudah memenuhi persyaratan.