Abstract :
Toleransi adalah sikap terbuka dan hormat terhadap perbedaan individu
atau kelompok dalam masyarakat. Ini mencakup pengakuan bahwa setiap orang
memiliki hak untuk memiliki pandangan, keyakinan, dan kebiasaan yang berbeda,
serta perlunya untuk menghormati hak-hak tersebut tanpa memaksakan
pandangan pribadi. Toleransi beragama merupakan aspek penting dalam menjaga
harmoni sosial di tengah masyarakat yang beragam. Meskipun berbagai penelitian
telah membahas pentingnya toleransi antarumat beragama, masih terdapat gap
penelitian terkait faktor-faktor yang memengaruhi tingkat toleransi ini, khususnya
dalam konteks pola pendidikan toleransi beragama.
Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian
lapangan kualitatif deskriptif dengan pendekatan fenomenologi. Proses
pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan melalui proses Observasi
(pengamatan), Interview (wawancara), dan Dokumentasi (pengambilan gambar).
Teknik yang digunakan untuk analisis data pada penelitian ini adalah mereduksi
data, menyajika data, dan menarik kesimpulan.
Hasil penelitian dapat diklasifikasikan menjadi tiga yaitu: pertama, Pola
pendidikan toleransi beragama siswa SMA N 1 Seputih Banyak Lampung Tengah
adalahpola pendidikan melalui penguatan cara pandang sikap dan praktik
beragama, pola pendidikan melalui penguatan kerukunan umat beragama, pola
pendidikan melalui penyelarasan relasi agamadan budaya dan didukung dengan
program lampung mengaji,jumat religi dan ekstrakulikuler. Kedua, Bentuk bentuk
pendidikan toleransi antar siswa dengan terwujudnya sikap saling menghormati
dan menghargai perbedaan, terciptanya pola piker terbuka siswa terhadap
kemajemukan, menurunnya sikap diskriminasi dan tindak ujar kebencian
menyagkut sara, meningkatnya sikap inklusif siswa dalam hal moderasi beragama.
Ketiga, Faktor pendukung pendidikan toleransi adalah optimalisasi pendidikan
inklusif seperti lingkungan belajar yang aksesibel melalui kerjasama dengan orang
tua dan guru. Fasilitas yang memadai seperti pondok baca, gedung serba guna dan
tempat beribadah. Sedangkan faktor penghambat pendidikan toleransi yaitu
kurangnya keterlibatan orang tua dalam optimalisasi toleransi dan
penyalahgunaan media sosial