Abstract :
Permasalahan yang muncul akibat rendahnya kualitas pelayanan adalah banyaknya DAMIU yang tidak memenuhi syarat kesehatan sesuai PERMENKES No.492/Menkes/Per/IV/2010. DAMIU dapat terkontaminasi karena beberapa alasan. Ini termasuk sumber air baku dari pompa listrik galian, tangki air yang tidak memenuhi standar sanitasi dan sanitasi DAMIU, serta proses filtrasi dan desinfeksi berteknologi rendah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas air yang dihasilkan di wilayah kerja UPTD Puskesmas Sababilah dan hubungannya dengan sanitasi sanitasi dan penampungan air minum tambahan (DAMIU). Jenis penelitian ini menggunakan teknik kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini adalah seluruh DAMIU yang ada di wilayah studi Sabivila, dengan sampel sebanyak 10 depo. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik global sampling. Alat penelitian menggunakan lembar observasi dan hygiene kit yang diperoleh dari UPTD Puskesmas Sabila untuk pemeriksaan kualitas air dengan uji statistik menggunakan korelasi Kendall Tau. Analisis univariat menunjukkan 4 lokasi DAM dengan sanitasi sedang (40%), 6 lokasi dengan sanitasi tinggi (60%), dan 4 lokasi dengan kualitas air minum DAMIU tidak memenuhi syarat (25%). Ada 6 depot (75%). Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kondisi sanitasi tempat penampungan air minum isi ulang dengan kualitas air yang dihasilkan uji Kendall Tau, dengan p-value sebesar 0,046. Saran perlunya meningkatkan pelaksanaan kegiatan pemantauan dan pemeriksaan kesehatan lingkungan stasiun pengisian air minum bulanan untuk meningkatkan kondisi higiene dan sanitasi pada stasiun air minum. Mencermati dan melengkapi fasilitas depot air minum (DAM) yang ada dan mencuci tangan konsumen sebelum melayani dapat meningkatkan higiene dan sanitasi depot air minum isi ulang.